Buruh Indonesia vs Nike: Melawan Kolonialisme Modern

“Kekalahan mereka merupakan akibat perpanjangan tangan dari budaya kolonialisme yang tidak disadari oleh para buruh”, ujar Keady.

Berbicara tentang nasionalisme bukan hanya sekedar memberikan sorak kepada Tim Nasional sepak bola Indonesia di depan televisi. Berbicara tentang nasionalisme ada baiknya memperhatikan kembali hal-hal fundamental yang terjadi pada sesama WNI. Dalam artian, seberapa jauh kepedulian WNI terhadap WNI lain yang dapat dianalogikan seperti kepedulian WNI terhadap Tim Nasional yang kalah dalam sebuah pertandingan.

Hal ini, sangat berkaitan dengan kedatangan Jim Keady ketiga kalinya di Universitas Parahyangan dalam memberikan sebuah kuliah umum Nike: “Behind The Swoosh”. Jim Keady adalah seorang pria berumur 39, berkewarganegaraan Amerika, yang selama 11 tahun hidupnya dihabiskan untuk melakukan research terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM dan pencemaran lingkungan yang dilakukan perusahaan sepatu olahraga terkemuka, NIKE. Dalam kuliah umumnya, Jim Keady memaparkan beberapa fakta, yang masyarakat Indonesia sendiri tidak tahu, mengenai perlakuan NIKE terhadap buruhnya di Indonesia.

 

NIKE mendirikan salah satu pabrik terbesarnya di Indonesia yang memiliki 140.000 manusia yang bekerja untuknya. Dokumentasi Keady memperlihatkan bahwa NIKE banyak melakukan pelanggaran seperti: kecurangan upah dan jam kerja, kekerasan fisik, tidak adanya hak libur bagi wanita dalam masa menstruasi mereka, maupun pembakaran produk gagal mereka yang sangat mencemari lingkungan perumahan dan sawah.

Salah satu cerita yang diangkat dalam kuliah Keady adalah mengenai  kisah seorang Ibu yang sudah bekerja selama 7 tahun lamanya di pabrik NIKE. Ibu yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan seorang anak perempuannya sekolah mengatakan, selama 7 tahun dedikasinya, ia belum pernah diberi kenaikan gajI. Ironisnya, gaji yang diterimanya perhari, hanyalah sebesar 2.43 USD. Lebih ironis dari kenyataan pertama, ketika ditanya apa yang sangat diinginkannya untuk anaknya adalah ingin memiliki cukup uang untuk membelikan anak perempuannya sepasang sepatu, bermerk NIKE.

 

Usaha Jim Keady dalam memperjuangkan hak buruh NIKE sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Selain melalui gerakan mendukung hak buruh, Keady juga mendokumentasikan serta menggalang suara masyarakat internasional lewat www.teamsweat.org untuk mendesak NIKE bertindak adil terhadap buruhnya. Dan ketika ditanya, apa yang mendasari aksinya ini adalah ketergerakan hatinya melihat ketidak adilan dan yang terpenting  tanggung jawabnya sebagai WN Amerika Serikat terhadap perusahaan negaranya yang mengeksploitasi warga negara lain.

 

Berkaitan dengan usaha kerasnya, ada baiknya menilik kembali analogi nasionalisme Tim Nasional Indonesia. Buruh NIKE yang bekerja untuk perusahaan adalah salah satu Tim Nasional Indonesia yang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya dalam pertandingan nyata melawan kolonialisme modern. “Kekalahan mereka merupakan akibat perpanjangan tangan dari budaya kolonialisme yang tidak disadari oleh para buruh”, ujar Keady. Kasus NIKE hanyalah merupakan salah satu kasus dari sekian kasus lain yang belum terpublikasikan apalagi sulit bagi para buruh untuk memperjuangkan hak yang mereka tidak sadari. Melihat fakta ini, menyandang status mahasiswa, bagaiamana sikap dan tindakan yang pantas untuk memenangkan pertandingan kolonial? Apakah hanya bersimpati atau mengambil langkah nyata?

Banyu Bening

Related posts

*

*

Top