Bongkar-Pasang Tata Ruang Gedung PPAG

Gedung PPAG tahap 1 sementara digunakan untuk kelas dan ruang dosen Fakultas Teknik. Dok/MP Gedung PPAG tahap 1 sementara digunakan untuk kelas dan ruang dosen Fakultas Teknik. Dok/MP

STOPPRESS MP, UNPAR –Pihak Fakultas Teknik (FT) Unpar sempat menolak dan mengubah rancangan tata ruang Gedung Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG). Hal itu disebabkan karena usulan rancangan tata ruang FT diubah oleh pihak PPAG sehingga tidak sesuai yang diinginkan FT. Akibatnya, perubahan itu turut menyebabkan keterlambatan rampungnya Gedung tahap 1 PPAG selama tiga bulan.

“Fakultas mengubah atas permintaan mereka (red. FT). Kita (red. PPAG) hanya sebatas melaksanakan sesuai kontrak dengan tender. Jadi kalau mau diganti, kita batalkan desain di kontraktor. Lalu, mereka bikin sendiri di luar panitia PPAG,” ucap Alex Hasan selaku ketua panitia pembangunan Gedung PPAG ketika diwawancarai oleh Media Parahyangan pada hari Selasa (30/8) di ruang Panitia PPAG.

Terkait perubahan tata ruang gedung PPAG itu, desain yang sudah dibuat oleh arsitek ternyata dinilai tidak cocok dengan yang diinginkan Fakultas Teknik. Wakil Dekan II* FT, Amirani Ritva Santoso pun menjelaskan bahwa awalnya pihak FT melalui Bachtiar Fauzi (Wakil Dekan III) sudah membuat sketsa untuk tata ruang itu.

Semula ruang dosen dan Tata Usaha (TU) terletak di lantai 1 dan ruang kelas berikut studio di lantai atas. Namun, desain itu mendapat perubahan dari panitia PPAG. “Entah ide dari mana, desain itu diubah lagi,” ucap Ami.

Ami juga menuturkan bahwa sekitar Februari atau Maret, desain tata ruang itu mengalami perubahan sekali lagi dan sama sekali berbeda dengan rencana awal. Perubahan itu menyebabkan studio terletak di lantai dasar sedangkan ruang pengurus struktural Fakultas, Tata usaha (TU) tertumpuk di pojok lantai. Sekitar ¾ lainnya berupa ruangan besar untuk dosen tanpa sekat.

Menanggapi perubahan itu, Ami menjelaskan bahwa pihak FT kemudian meminta tata letak disesuaikan dengan sketsa yang telah dibuat oleh Bachtiar Fauzi. Namun, pengerjaan tata letak yang berbeda dari sketsa awal itu telah dilaksanakan sehingga terdapat beberapa bagian yang sudah tidak bisa diubah lagi.

“Jadi memang banyak ruang yang terlihat seperti dipaksakan, seperti ruang seminar yang cukup kecil karena sisa ruangnya memang hanya segitu,” ucap Ami.

Selain itu, perubahan tata ruang gedung PPAG yang dilakukan oleh FT pun menggunakan dana dari universitas. Ami menuturkan misalnya pembuatan sekat-sekat sempat dikeluhkan akan mengeluarkan uang lebih, tapi ia menganggap memang seharusnya demikian. Alex pun menganggap bagian dalam ruangan memang sudah terlanjur ditender. “Yang sudah kepasang dibongkar lagi, terus pasang yang baru ya harus bayar lagi,” ucap Alex.

Terkait perubahan tata ruang gedung PPAG tersebut, beberapa bagian gedung yang telah dipasang pun mengalami pembongkaran. Sehingga turut menyebabkan mundurnya pemindahan barang-barang yang dalam prosesnya membutuhkan waktu dan biaya. “Jadi gara-gara mundur, baru sekarang (red. Bulan Agustus) bisa dipasang AC dan diisi barang-barang,” ucap Alex.

Alex juga menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi di rancangan tata ruang Gedung PPAG menjadi salah satu sebab keterlambatan rampungnya pembangunan tahap satu gedung PPAG. Dalam kontrak, pembangunan tahap satu seharusnya telah rampung sejak Bulan Mei, tetapi terlambat tiga bulan hingga Bulan Agustus.

SHAQUILE NORMAN, FIQIH RIZKITA

 

*Koreksi jabatan wakil dekan I dikoreksi menjadi wakil dekan II sesuai jabatan dan penulisan yang benar dalam struktur organisasi Fakultas Teknik. Koreksi disampaikan oleh Nico Jaya Putra pada Sabtu (8/10).

Related posts

2 Comments

  1. andre taulany said:

    beginilah kondisi dunia pendidik di UNPAR yang gak pernah kompak. Di satu sisi, anak arsitek dan sipil telah terlanjur dibatasi ruang geraknya, banyak dilarang berkegiatan secara tenang. SAYA SANGAT MENYAYANGKAN KEADAAN INI, DAN PRIHATIN. Bagai mana mungkin faktultas teknik yang KATANYA memiliki SUMBER DAYA MANUSIA mumpuni, harus TAKLUK dengan kebodohan2 instan birokrat UNPAR. TIDAK dimanfaatkan sumber daya ilmunya untuk “MEMBINA LINGKUNGAN BINAAN PENDIDIKAN” yang ideal, malah “KEBODOHAN KAPITALIS BELAKA”.

  2. Martin Rahmatullah said:

    Saya pernah kencing di lantai 2 gedung PPAG (which is lantai khusus dosen). Saya pun kencing bersebelahan dengan seorang dosen sipil (kalau gak salah). Beliau tanyakan kepada saya:”apakah saya assisten atau mahasiswa??”. Saya jawab bahwa saya seorang mahasiswa. Dan Beliau marah usir saya, dan katakan bahwa WC tersebut khusus untuk dosen. Saat itu saya makin faham, kalau beberapa dosen di unpar memang tidak pernah mawas diri akan perbuatan mereka. Layout yang salah , lingkungan belajar yg kacau dan tidak nyaman. dll. Apakah perlu demo dan gugatan yg diprakarsai anak anak FH waktu dulu??? dan kini mahasiswa FT lah yang bergerak.

*

*

Top