Berulang Menunggu Pulang (Cerpen)

Entah dari mana datangnya capung gunung itu. Berputaran di ruangan sempit. Menabraki lampu neon yang mendengung di ruang tamu. Tanpa Kardi sadari, kekosongan pandangnya mengikuti arah terbang capung gunung. Perhatiannya makin tercuri tingkah polah capung gunung, terjerat jaring laba-laba di sudut ruang—meronta-ronta dan akhirnya tak kuasa, mati. Ia mengerutkan kerut kening yang makin dikeruti usia. Terasa ada isyarat kesialan.

Di luar, hujan makin deras. Kota yang begitu hingar terasa sunyi. Gemuruh cucuran air hujan pada atap seng rumahnya tak seriuh gemuruh pikirannya pada Ayu. Disingkapnya gorden. Malam terasa berahi. Kekhawatiran seorang ayah telah meledak menjadi gundah.

Ia benar-benar tak habis pikir. Kenapa putrinya bisa begitu ngotot untuk pergi malam ini, bahkan tanpa sepengetahuannya. Tak disangka, Ayu yang penurut telah berani melawan larangannya. Di tinggal ke luar sebentar, tahu-tahu menghilang. Hanya meninggalkan sepucuk surat di atas meja.

Pak, Ayu harus pergi malam ini. Menghadiri acara ulang tahun teman. Ayu janji, akan pulang tak sampai lewat tengah malam.

“Apakah aku masih keras kepala?” memeras jidat. Membuang nafas panjang.

Ia tersadar, ada sebuah fragmen kehidupan pada sembilan belas tahun lalu yang berulang malam ini. Seolah ada yang ingin membuka kembali sebuah peristiwa terpahit dalam kecap hidupnya.

***

Malam terasa mati. Kardi tak kuasa melepas Ayu kecil, merengek sedari tadi. Haus pada kasih dan basuh air susu ibu yang tak ia dapati sejak pagi. Kardi hanya bisa mondar-mandir sambil menimang-nimang Ayu. Dengan harapan dapat meredakan rengek putri pertamanya. Tangisan Ayu makin keras. Makin resahlah ia.

Kardi benar-benar tak habis pikir. Kenapa istrinya bisa begitu ngotot untuk pergi ke kota kemarin malam, bahkan tanpa sepengetahuannya. Tak disangka, istrinya yang begitu sabar kini berani menentang larangannya. Baru terbangun dari tidur, tahu-tahu menghilang. Hanya meninggalkan sepucuk surat di atas meja. Yang bertuliskan;

Maafkan Yani istrimu ini, Kang Mas. Aku harus pergi ke kota. Memenuhi panggilan atas lamaran kerja pada sebuah pabrik tekstil yang kita obrolkan tadi malam. Bukannya berani menentang larangan Kang Mas. Aku bosan hidup serba kekurangan. Gaji honoran Kang Mas sulit memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Sama sekali tak bermaksud menyinggung perasaan Kang Mas atas nafkah yang diberikan. Aku mohon doa Kang Mas, agar aku pulang dengan membawa pengharapan akan kehidupan kita di kota. Dan tak akan sampai lewat tengah malam, aku kan pulang dengan membawa pengharapan tersebut pada Kang Mas. Jaga Ayu, Mas. Wassalam.

“Apakah aku terlalu keras kepala?” menghapus air mata di pipi Ayu.

Di luar, bulan purnama telah condong ke barat langit. Hampir lesap pada wuwungan rumah tetangga. Cahayanya menyembur dari kaca jendela saat disingkapnya gorden bertuliskan segitiga biru itu. Kerlip bintang terasa sunyi, malam seolah mati, dan detak jarum jam yang ia pandangi makin mendebarkan jantungnya. Ia melakukan itu berulang-ulang: menyingkap gorden lantas memandangi jarum jam begitu lama.

Bulan benar-benar lesap, terhalang wuwungan rumah. Tangisan Ayu mereda mungkin karena lelah, pulas tertidur. Namun resah makin menjadi gelisah. Ada belahan jiwa yang sedang ditunggui kepulangannya.

Kardi tak mungkin ke luar rumah. Tak tega meninggalkan Ayu sendirian. Ia hanya bisa menunggu dan berdoa atas keselamatan istrinya, jauh di luar sana. Memandangi redup lampu bolham sambil mengelusi rambut Ayu, lelap dalam dekapan.

Entah dari mana datangnya Capung gunung itu. Memutari ruangan sempit. Menabraki redup lampu bolham di ruang tamu. Tanpa Kardi sadari, pandangan kosongnya mengikuti arah terbang capung gunung itu. Perhatiannya semakin tercuri tingkah polah capung gunung, terjerat jaring laba-laba di sudut atap bilik bambu—meronta-ronta dan akhirnya tak kuasa. Mati. Dan ia tak peduli.

Kardi terperanjat dari kantuknya. Terdengar suara ketukan di pintu. Membaringkan Ayu lantas membuka pintu bergegas. Namun tak seorang pun ia dapati di luar. Ia langkahkan kaki beberapa, memastikan bahwa tidak ada orang di luar. Angin mendesir perlahan. Sejauh pandangan mata, hanya sunyi yang ia tatap. Shalawat mulai terdengar, mengalun merambati sunyi, mendayu. Akhirnya ia kecewa dan kembali masuk ke rumah. Mendekap Ayu yang tertidur pulas di pembaringan.

Tangisan Ayu membangunkan tidurnya. Ditimangnya ia. Istrinya masih belum pulang.

“Kaukah yang mengetuk-ngetuk pintu langit tadi malam…*, Istriku?” gumamnya.

***

Gelegar guntur menyadarkannya dari lamunan masa silam. Kilasan fragmen malam itu, dikemasinya kembali dalam hati. Keresahannya makin meronta. Ia takut fragmen malam itu terulang kembali malam ini. Sebuah kerinduan pada segurat garis wajah perempuan yang mengguratkan garis wajah yang begitu lekat dalam mimpinya dua puluh tahun yang lalu kembali membuncah.

Kedatangannya di kota ini bermaksud mencari bagian jiwa yang tak pulang sembilan belas tahun lalu. Dengan menjual rumah dan pekarangan yang lumayan luas di kampung. Kota ini masih terlalu asing bagi Kardi. Dalam waktu dua bulan tak akan cukup baginya untuk mengenali segala hiruk-pkuk kehidupan yang begitu beragam. Tapi bagi Ayu, kota ini adalah sebuah kehidupan baru yang begitu menyenangkan. Dalam waktu seminggu saja ia telah berhasil menggaet seorang pemuda berkendara volvo dan mengenalkannya.

Ia kembali mencari nama Ayu dalam deret memori hand phone-nya dan me-miscal. Lagi-lagi tidak aktif.

“Ya Tuhan lindungilah putriku,”

Anak semata wayang yang ditinggalkan Ibunya sedari kecil kini sedang indah-indahnya. Wanginya pastilah menggiurkan banyak laki-laki.

Keinginannya untuk mencari telah meresahkan keterdiamannya; tak peduli harus mencari ke mana, tak peduli di luar hujan makin mengguntur, tak peduli dengan dinginnya angin malam. Karena Ayu telah melanggar janjinya.

Dengan berpayungkan harapan, kasih sayang, kekhawatiran pada Ayu, juga tanggung jawab seorang ayah Kardi menembus deras hujan. Lorong-lorong gang begitu sepi. Sesekali, ia hampir terpeleset karena sandal capitnya yang tipis begitu licin saat menapak plesteran semen pengganti aspal sepanjang gang, kuyup.

Tanpa disengaja, mata Kardi memergoki sepasang kekasih yang sedang berteduh sambil bercumbu cium di sudut keremangan, beberapa langkah di hadapanya. Jantungnya makin berdebar. Sama sekali ia tak berharap telah menemukan putrinya, Ayu. Ia terus melangkahkan kaki. Setelah dekat, maka nyatalah ia tak mengenali mereka sama sekali.

Sampailah di muara gang. Lalulalang kendaraan masih sibuk. Aktifitas pemuda dan pemudi masih berlanjut. Sebuah pemandangan yang membuat matanya tak nyaman. Payungnya menyingkap tertiup angin. Tubunya menggigil. Matanya yang mulai sayu terus mencari ke segala arah. Kadang-kadang mobil berkecepatan tingi menyipratkan air genangan hujan pada kain sarungnya. Ia tak peduli.

Setelah beberapa lama ia berdiri di muara gang, pingir jalan. Ia benar-benar merasa tak nyaman berlama-lama di sana. Kecewa dan kembali ke rumah.

Ditutupnya pintu. Kakinya kuyup berlumpur. Sarungnya kotor. Ia tak peduli. Pikirannya masih saja mengemuruh. Matanya makin kuyu; terasa perih.

Kardi terperanjat dari kantuknya ketika mendengar suara ketukan di pintu. Bergegas membuka pintu. Namun tak seorang pun ia dapati di luar. Ia melangkah beberapa tapak, memastikan bahwa Ayu pulang. Angin mendesir perlahan. Pandangan mata terhalang rumah yang saling menghimpit, hanya sunyi yang ia tatap. Suara radio terdengar pelan merambati sunyi, mendayu. Akhirnya ia kecewa.

Pagi telah bangkit. Suara gaduh pertengkaran tetangga, membangunkannya. Dicarinya Ayu. Kamarnya tak berpenghuni.

“Kaukah yang mengetuk-ngetuk pintu langit tadi malam…*, Putriku?” lunglai.

– Pondok ASAS. Bandung, 010607

Related posts

*

*

Top