Bentuk Crisis Center Hepatitis A Segera!

Hepatitis A menjadi kata yang menakutkan bagi warga Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) beberapa minggu terakhir. Betapa tidak, beberapa Rumah Sakit seperti St. Borromeus dan Advent dipenuhi oleh mahasiswa Unpar, yang datang dengan keluhan yang sama: lemas, mual, dan urine berwarna keruh – gejala seseorang telah terjangkit hepatitis A. Dari jumlah penderita yang semula bisa dihitung jari, dalam jangka waktu sebulan sudah memakan puluhan, bahkan ratusan korban. Tak diragukan lagi, kita sedang menghadapi wabah yang serius.

Akibat jumlah korban yang terus bertambah, media massa segera meliput wabah ini. Rosmaida Christina, Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan berbicara kepada sejumlah media cetak, seperti harian Pikiran Rakyat: “Kebiasaan menggunakan alat makan yang muh,1 (mungkin maksudnya kumuh – red) seperti minum secara estafet juga bisa. Namanya juga mahasiswa” (edisi 27 Oktober).  Dan detik.com di tanggal yang sama, “Karena pola makan yang jelek”.

Terlihat bahwa pihak rektorat belum memiliki pemahaman yang memadai terkait wabah yang sedang menyerang, dan kembali kepada metode yang paling akrab dengannya: menyalahkan mahasiswanya yang jorok, masih kekanak-kanakan, dan tak bisa menjaga dirinya sendiri. Tentu logika tersebut bisa kita pertanyakan, mengapa Unpar? Jika masalahnya adalah tempat makan yang tidak higienis, mengapa tidak kampus-kampus lain di Bandung yang mestinya memiliki persoalan serupa? Apakah kebetulan hanya mahasiswa Unpar yang demikian lalai mengatur pola makan dan sebagainya, sehingga penyebaran bisa mencapai skala sebesar ini? Jika memang pola makan, kenapa baru sekarang? Dan yang belum terjawab: darimana asalnya?

Selama beberapa minggu, kita hanya bisa puas dengan kebijakan-kebijakan “nanggung’, seperti kunjungan Wakil Rektor 3 untuk mereka yang terkena hepatitis A. Kebijakan kongkrit, program penanggulangan, masih belum juga dikeluarkan.

November pun tiba, rektorat bergegas menyusul ketertinggalannya. Tanggal 2 November 2011 kemarin, diadakan penyuluhan Hepatitis A oleh Borromeus di ruang Audio Visual FISIP. Lalu pada tanggal 8, penyuluhan ke kantin Unpar dan sekitar Unpar. Disusul vaksinasi yang akan diadakan kemudian. Selain kelambatan, ada hal lain yang luput jadi perhatian: tidak ada kemudahan akses informasi untuk mengetahui perihal kasus hepatitis di Unpar. Menilik Undang-undang no 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, dalam pasal 10 tertera tentang Informasi yang Wajib diumumkan secara serta-merta. Isinya adalah “Badan Publik wajib mengumumkan secara serta-merta suatu informasi yang dapat mengancam hajat hidup orang banyak dan ketertiban umum”. Unpar yang bersifat badan publik seharusnya mengikuti ketentuan UU tersebut. Penyakit hepatitis dapat mengancam hajat hidup orang banyak. Tetapi tidak ada kemudahan akses informasi perihal penyakit hepatitis A.

Tentu inisiatif Rektor yang baru terpilih, Robertus Triweko untuk menerbitkan surat edaran pada 9 November 2011 mengenai situasi terkini wabah dapat kita apresiasi. Namun, wabah sudah terlanjur memakan banyak korban, dan menakuti sisanya. Ditengah kebingungan, kita menyadari pentingnya satu crisis center, yang berfungsi sebagai pusat informasi krisis yang tengah berlangsung. Informasi tentang pencegahan, penanggulangan, ataupun jumlah pasti mahasiswa yang terkena hepatitis sudah seharusnya mudah didapat. Crisis center kemudian dapat berperan pula sebagai pos penanggulangan dan segala hal yang berfungsi untuk mencegah wabah hepatitis semakin meluas.

Patut disayangkan pihak-pihak yang seharusnya dapat berperan lebih, kurang peka akan hal ini. Pada tahun 2009 Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) beserta beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pernah menggagas hal serupa ketika gempa menimpa Jawa Barat. Suatu pusat informasi yang juga berperan sebagai pos penanggulangan dibentuk. Tetapi tidak ada inisiatif dari pihak LKM, Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM), ataupun rektorat yang seharusnya dapat lebih leluasa melakukan hal tersebut.

Langkah terpenting berikutnya selain penanggulangan tentu menyelidiki asal muasal si virus. Jika dari tempat makan sekitar Unpar, perlu dilakukan penyelidikan teliti dan transparan. Sehingga menghindarkan kita dari aksi main sembarang tuduh, dan mengorbankan para penjual yang sudah memenuhi standar kebersihan. Pihak kampus juga harus menjamin untuk diberikannya kelonggaran bagi mahasiswa yang karena terjangkit hepatitis, tak dapat mengikuti perkuliahan, terlambat mengumpulkan tugas, atau tidak mengikuti ujian.

Virus hepatitis A telah menyebar luas dalam tempo yang amat singkat. Tentu hal itu mesti dicegah. Crisis Center merupakan kebutuhan mendesak. Tak terbayang dampak yang diakibatkan jika virus ini dibiarkan menjalar lebih luas: Sekarang Unpar, Ciumbuleuit, lalu Bandung. Bentuk Crisis Center segera!

Related posts

*

*

Top