Bagaimana Masyarakat Indonesia Sikapi Pelarangan Muslim Oleh Trump?

Kandidat calon presiden partai republik, Donald Trump berbicara kepada pendukungnya sembari naik ke panggung untuk kampanye di Dallas, Senin, 14 September 2015. Dok/AP Photo/LM Otero Kandidat calon presiden partai republik, Donald Trump berbicara kepada pendukungnya sembari naik ke panggung untuk kampanye di Dallas, Senin, 14 September 2015. Dok/AP Photo/LM Otero

INTERNASIONAL, MP – Salah satu calon Presiden Amerika ke-45, Donald Trump memang telah menyita perhatian dunia dengan kampanye-kampanyenya yang kontroversial. Seperti pernyataan bahwa Obama mendirikan ISIS, pembangunan tembok di perbatasan Amerika Serikat (AS) dengan Meksiko , hingga pelarangan bagi orang Muslim untuk memasuki negara adidaya tersebut.

Sejauh ini Trump belum terlalu fokus terhadap apa yang akan menjadi politik luar negerinya terhadap Indonesia. Akan tetapi, masyarakat Indonesia sudah skeptis terhadap Trump. Salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah kampanye pelarangan Muslim untuk memasuki AS.

Seperti dilansir dari Reuters, Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa jika Trump terpilih, maka mayoritas masyarakat Indonesia tidak dapat memasuki AS. Situasi ini menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang menginginkan agar Trump dan bisnis-bisnisnya di Indonesia dilarang. Keinginan masyarakat Indonesia ini dikemukakan dalam petisi yang telah di dukung sebanyak 450.000 orang.

Selain bisnis-bisnisnya, jika Trump terpilih sebagai presiden akan membawa bahaya terhadap aset-aset AS di Indonesia. Terutama karena hubungan Indonesia dan AS tidak dimulai dengan awal yang baik.

Akan tetapi, pada Juni 2016 kampanye Trump pun diubah. Menurut Wall Street Journal, Trump memindahkan target pelarangan sementara untuk memasuki A. Dari seluruh Muslim menjadi negara-negara yang selama ini dianggap sumber utama para teroris dan pendukung-pendukung yang pada akhirnya memasuki AS. Hal tersebut diperkirakan terjadi lantaran terjadi penurunan pemilih pada Trump sehingga sedikit ketinggalan dari kompetitornya, Hillary Clinton.

Reuters | Wall Street Journal |TANYA LEE

Related posts

*

*

Top