Asep Warlan: Ciumbuleuit Kawasan Konservasi, Jangan Memaksakan Pembangunan Gedung Baru

Foto: www.tataruangindonesia.com Foto: www.tataruangindonesia.com

WAWANCARA, UNPAR – Terkait dengan akan dibangunnya gedung baru Unpar, salah satu dosen Hukum Unpar dan ahli didalam bidang hukum tata ruang yaitu Asep Warlan Yusuf yang ditemui di kantornya Gedung Pasca Sarjana Unpar pada Rabu (12/11) mengemukakan pendapatnya tentang pembangunan gedung baru Unpar. Unpar berada di kawasan Bandung utara yang merupakan kawasan konservasi. Berikut petikan wawancaranya:

Pandangan bapak tentang pembangunan gedung baru Unpar yang akan membangun dua gedung setinggi 13 dan 9 lantai dari kaca mata hukum tata ruang?

Unpar berada di kawasan Bandung utara yang dimana kawasan ini adalah kawasan konservasi. Dilihat dari peraturan daerah, maksimal ketinggian untuk pembangunan berlantai adalah 15-20%. Jadi dengan kondisi ruang ciumbuleuit yang sudah penuh, saya agak ragu apakah pembangunan akan dijinkan atau tidak. Secara hukum pembangunan di kawasan konservasi itu sulit untuk dikendalikan dengan pemanfaatan ruang yang terbatas dan rasio jumlah lantai bangunan pun terbatas.Unpar itu kan satu jalur, daya tampung ruang akan menjadi  menurun dalam arti kapasitas melayani kegiatan masyarakatnya pun sudah semakin terbatas, jadi akan menimbulkan problem. Untuk pembangunan saya khawatir sudah melampaui daya tampung ruang dikampus, ada title dipaksakan. Padahal seharusnya menambah ruang terbuka, ruang yang bisa dimanfaatkan orang-orang bukan dalam bentuk yang indor.

Bagaimana dengan konsep tata ruangnya? 

Terdapat 5 konsep tata ruang yaitu fisik,kegiatan, sumber daya, hak serta wewenang pemerintahan. Dilihat dari aspek fisik, sudah sangat berat untuk menampung kegiatan didaerah ciumbuleuit. Kita bisa melihat betapa sumpeknya sekarang daerah itu (red: Ciumbuleuit) sudah banyak pemukiman, kegiatan ekonomi seperti pasar swalayan, apartement-apartement yang menjulang dan tentu kampus Unpar yang dipenuhi banyak orang dan banyak kendaraan. Tata ruang tersebut harus dikendalikan agar kawasan ciumbuleuit memiliki daya tampung ruang yang tetap baik dan nyaman. Dari aspek kegiatan jangan sampai melebihi kapasitas daya tampung tadi yang dijelaskan. Kemudian dilihat dari aspek sumber daya jangan hanya mementingkan sumber daya ekonomi tapi juga sumber daya sosial dan lingkungan harus dipikirkan. Aspek keempat adalah seperangkat hak yang harus dihormati, diakui dan dipenuhi didalam masyarakat, bukan hanya masyarakat Unpar tetapi juga masyarakat sekitar. Dan yang terakhir adalah aspek wewenang pemerintah. Disini Pemerintah Daerah (Pemda) harus bijak didalam memberikan iin dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Apakah sudah tepat pemanfaatan ruang di kawasan Ciumbuleuit?

Jelas tidak, kalau sampai semua dipaksakan di ciumbuleuit saya tidak bisa membayangkan betapa crowdednya kawasan itu. Pengelola kampus itu selalu berpikir segala kegiatan membutuhkan ruangan padahal kita bisa saja memakai ruangan terbuka. Memang saya akui banyak kebutuhan terhadap kegiatan di Unpar hanya jika dipaksakan akan membuat interaksi akan sangat terbatas. Pesan saya adalah menambah ruang terbuka lagi bukan hanya menambah gedung.

Bagaimana mengatasi kebutuhan ruang?

Jangan bangun gedung baru di ciumbuleuit. Unpar harus berani mengatakan bahwa kita harus pindah ke tempat lain yang memadai. Ciumbuleuit sudah sangat sumpek dan tidak nyaman, parkir susah, keluar susah, mungkin orang banyak terlambat karena macet dikawasan ciumbuleuit. Apakah Unpar tidak berfikir jika menambah gedung seperti itu hanya akan menambah problem dengan sirkulasi orang disana. Kita membutuhkan ruang terbuka hijau yang sangat lapang.

Bagaimana dengan dampak bagi masyarakat sekitar, seperti misalnya dampak air?

Dampak eksternalitas dari kegiatan itu banyak misalnya soal air, polusi udara, kemacetan dan mungkin juga kaitannya dengan kenyamanan masyarakat. Harus dipikirkan dampak sosial yang muncul dari situ. Jangan sampai nanti Unpar memakai air tanah yang kemungkinan bisa mengurangi jatah masyarakat sekitar. Karena dengan ketinggian bangunan segitu  membutuhkan pompa yang dayanya sangat tinggi. Unpar harus memikirkan terkait lingkungan disekitarnya.

Solusi untuk pembangunan Unpar?

Kalau memang dibutuhkan adalah mencari lokasi lain selain di cimbuluit yang bisa mudah akses dan lebih nyaman sehingga mahasiswa dapat merasa enjoy dan kondusif dalam belajar. Misalnya dulu sempat ada kabar Unpar akan di pindahkan ke kawasan Kota Baru Parahyangan atau mengikuti teman-teman kampus kita yang di Jatinangor. Kita harus memperhatikan kenyamanan mahasiswa, kenyamanan masyarakat Unpar dan masyarakat sekitar. Saya selalu membayangkan betapa indahnya Unpar jika memiliki lahan hijau yang luas, dapat dimanfaatkan untuk belajar mengajar mahasiswa. akan sangat bermanfaat dan membuat mahasiswa pun lebih enjoy didalam belajar.

KRISTIANA DEVINA

Related posts

*

*

Top