Arwah Bapak untuk Adinda (Bagian 2 – TAMAT)

Ilustrasi Human Rain, Cloud. Dok/Kazuya-Akimoto/MP Ilustrasi Human Rain, Cloud. Dok/Kazuya-Akimoto/MP

Aku memiliki dua sahabat, kami berteman sudah dari SD. Kedua sahabatku bernama Amira dan Mutia. Kami apa adanya, persahabatan kami cukup aneh, kami bersahabat namun selalu merasa geli saat saling memuji satu sama lain. Kami lebih sering saling mengejek, namun kami masing-masing mengetahui bahwa ejekan itu adalah pujian yang tersembunyi. Menginjak usia remaja, persahabatan kami semakin aneh. Kami dipersatukan karena memiliki nasib yang sengaja kami sama-sama kan. Persahabatan kami adalah perkumpulan perempuan yang merasa krisis akan kepercayaan diri. Kami sama-sama perasa dan penakut. Dalam masalah cinta percintaan, kami adalah tiga sahabat yang merasa diri senasib sepertanggungan.

Entah halusinasi atau entah kekuatan pikiran, kami bukan yang beruntung bisa menikmati romansa percintaan anak-anak SMA saat itu. Tiap tahun berganti resolusi pertama yang ditulis dalam kertas adalah memiliki pasangan. Namun diakhir tahun, resolusi itu tidaklah tercapai jua. Kami seperti terjun menjadi remaja perempuan yang krisis akan kepercayaan diri.

Semenjak resolusi yang kami tulis tidak pernah terlaksana dan berhasil, kami semakin bermain api. Amira kini diponselnya berlangganan ramalan zodiak harian, ia akan menjadi sedih saat sms ramalan itu menggambarkan kehidupan dia yang akan sedih seharian, namun dia akan memancarkan raut muka bahagia pada saat sms ramalan mengirimkan kalimat “kamu akan happy terus seharian ini, doi mulai lirik-lirik kamu terus tuh”.

Tak jauh dari Amira, Mutia yang kini sudah berbeda kampus dengan aku dan Amira memiliki teman yang katanya indigo. Selain temannya itu bisa melihat masa depan, kabarnya teman sekampus Mutia juga bisa membaca aura tubuh. Saya dan Amira sengaja berkunjung ke kampus Mutia, kami dikenalkan dengan teman kampus Mutia itu.

“kenalin temen gue,” ucap Mutia sambil menunjuk temannya yang berkepala plontos dan jarang tersenyum. Kami antara ketakutan dan tak sabar berkenalan.

“Putu” ucapnya singkat sambal melambaikan tangan.

Tanpa basa-basi Mutia menjelaskan maksud dan tujuan keadatangan kami menemui Putu. Putu melihatku tanpa berkedip, mukanya terlihat antara kebingungan dan takut.

“aura kamu hitam” ucapnya.

“aku tahu kenapa kamu susah dapet pacar,”

“kenapa?” ujarku penasaran

“kamu tahu, aku lihat kamu tidak sendirian. Kamu selalu dtemani oleh seseorang yang entah siapa. Aku hanya melihat dia laki-laki, dia tertarik sama kamu dan di hitam”

Aku, Amira dan Mutia kami diam beberapa detik mencerna ucapan Putu tadi.

Mutia berbisik “temen-temen gue bilang, dia emang suka aneh sih. Gue yakin dia ngarang”

Bisikan Mutia terdengar ingin menenangkan, aku percaya pada Mutia, Putu pasti ngarang. Mukanya terlihat penuh keraguan dan kebingungan. Entah itu karena aku sedang menghibur diri atau tidak tapi aku meyakini diri bahwa Putu hanya mengarang.

Mutia memecahkan suasana hening kami dengan Putu,

“keren banget din aura lu item, kaya anak punk” kemudian kami hanya tertawa dan pamit pulang pada Putu.

Pikiranku melayang pada perkataan Putu tadi, kemudian aku takut sendiri. Tapi berkali-kali Mutia dan Amira mengingatkan kalau Putu hanya manusia. Dia bukan Tuhan yang tahu segalanya, jadi tidak usah dipikirkan dan dimasukkan ke hati. Perjalanan pulang kami diwarnai dengan obrolan tentang Putu. Obrolan itu seakan ingin menutupi ucapan dia yang sedikit mencekam.

 

****

Fahmi, temanku yang lain masih berusaha membantuku menemukan pasangan dan membangkitkan kepercayaan diriku. Dia ingin mengenalkanku kepada teman-temannya yang suka berkumpul di warung siomay jalan Sumatera dekat Taman Lalu Lintas. Warung siomay itu dipenuhi orang. Tapi terlihat bukan pembeli, mereka hanya sekedar mengobrol dan menongkrong disana. Aku sempat malu, tapi fahmi menahanku pulang. Tidak tahu kenapa, saat itu jantungku berdegup kencang.

Aku dikenalkan dengan semua orang yang ada di warung itu, termasuk penjualnya. Bapak-bapak berumur setengah abad namun masih terlihat segar dan kuat. Rambutnya setengah putih setengah hitam, kaos hitam bertuliskan “Blink 182” yang dikenakannya sangat kontras dengan umur dan rambutnya yang beruban itu. Namun ia tampak sangat necis dan muda.

Pak Hendro, penjual siomay itu tiba-tiba bertanya “aya naon adinda teh?”

Aku balas dengan Bahasa sunda juga “teu nanaon bapak, emang kunaon kitu?” (tidak apa-apa bapak, memang kenapa?)

“nya geus kabogoh mah engke datang sorangan, teu kudu dipikirkeun wae” (tidak apa-apa pacar nanti akan datang dengan sendirinya, tidak usah terlalu dipikirkan).

Aku kaget, mengapa Pak Hendro bisa tahu bahwa aku memang sedang memikirkan masalah percintaan dan pasangan. Kemudian aku berbisik pada fahmi. Fahmi menjawab bahwa diwarung ini adalah perkumpulan manusia-manusia indigo. Aku kaget sekaligus penasaran.

“iya pak, kenapa aku the belum juga dapet pacar, sedih jomblo wae (sedih jomblo terus)”

“Dinda, sudah dibilang sama bapak, pacar mah nanti datang dengan sendirinya. Kamu hanya perlu menjalani apa yang sedang kamu jalankan saat ini  dan jangan lupa cita-cita kamu. Mau ke Jerman kan?”

Aku kaget, “kok bapak tahu?”

“kan kamu tahu saya indigo”

“Dinda, saat ini kamu ada yang jaga, bapak tidak tahu itu siapa yang pasti kamu selama ini tidak sendiri”

“Maksud bapak?”

“Ada laki-laki, mungkin seumuran bapak, laki-laki itu menjaga kamu. Dia baik, dia tidak ganggu kamu bahkan dia membantu kamu mengejar cita-cita kamu”

“Siapa pak?” tanyaku penasaran.

“Bapak juga tidak tahu”

“Pakai baju apa pak? Perawakannya bagaimana? Kulitnya warna apa?”

“Baju Polo Shrit, perawakannya lebih tinggi dari kamu, kemudian dia berisi, hitam manis, mirip sama kamu” jelasnya.

Aku mengingat foto bapakku. Difoto itu sambil menggendongku yang masih kecil dia memakai kaos Polo. Tiba-tiba lututku lemas dan aku hampir jatuh, teman-teman disana menahanku.

“Apa dia bapakku pak?”

“Apa kamu mau lihat? Bapak bisa bantu kamu untuk lihat. Kelihatannya laki-laki ini ingin menyampaikan sesuatu”

Aku sempat menolak, tapi tidak tahu kenapa aku mengiyakan tawaran Pak Hendro.

Pak Hendro memegang pundakku, ia menutup mataku, membacakan ku sebuah doa yang entah apa. Lalu ia membuka tangannya perlahan dari mataku, setelah aku membuka mataku, aku melihat sosok bapak dalam muka Pak Hendro. Ia berdiri tegap dengan kaos Polo dan celana bahan. Ia tersenyum sambil meneteskan air mata, ia seperti berbicara tapi aku tidak bisa mendengar. Aku histeris menangis, tangisanku dibubuhi jeritan rindu. Jantungku berdegup sangat kencang, tanganku gemetaran, aku berdiri dipopoh teman-teman yang baru kukenal.

Perjumpaanku dengan bapak tak berlangsung lama, karena aku pingsan. Aku kepalang rindu, aku ditinggal bapak pada saat umurku masih 5 tahun. Kini umurku 21 tahun, berbelas-belas tahun aku lupa belaian bapak, suara bapak terdengar hanya samar-samar, hanya foto yang bisa mengingatkanku pada muka bapak. Mukanya tampak serupa seperti difoto yang dipajang di dinding ruang tamu.

Perjumpaanku itu mengingatkanu bahwa aku sudah jauh dengan bapak. Aku sudah jarang duduk dikolong langit merasakan kehangatan bapak dari sinar matahari, atau mendengar bisikan bapak dari angin, atau menatap bulan untuk melihat senyuman bapak. Seturut dengan bertumbuhnya umur, hidupku banyak kuhabiskan untuk bersenang-senang dengan teman-teman, pergi ke club, ke mall, cari pacar. Aku berubah dari gadis kecil bapak yang lugu menjadi gadis dewasa bapak yang terlalu menikmati kenimkatan duniawi.

Ibu pernah bilang, ditengah kondisi bapak yang semakin memburuk bapak tidak ingin anak bungsunya ini berjalan sendirian. Ia sempat merasa menyesal mendapatkan sakit dari Tuhan karena tidak bisa merawat aku sampai besar. Melainkan kakak-kakakku dirawatnya sampai menginjak remaja.

Semenjak saat itu aku sadar, saat ke Nias, aku ke Nias bersama bapak. Bapak merindukan kampung halaman dan sanak saudara. Saat aku bertemu dengan Putu, ia ketakutan dengan bapakku yang menjagaku dengan baik. Kini aku akan fokus untuk pergi ke Jerman dengan beasiswa. Entah apa yang aku lakukan tapi aku harus pergi ke Jerman bersama bapak. Setelah aku dan bapak bisa bersama-sama ke Jerman, aku harap dia tenang di langit. Aku akan tetap menjadi penikmat langit yang sejati, bersama arwah bapak.

*****

Tentang Penulis :

Kristiana Devina, Hukum 2013

Related posts

*

*

Top