Arwah Bapak untuk Adinda (Bagian 1)

Ilustrasi Human Rain, Cloud. Dok/Kazuya-Akimoto/MP Ilustrasi Human Rain, Cloud. Dok/Kazuya-Akimoto/MP

Kristiana Devina, Hukum 2013

Semilir angin mengantarkan aroma melati yang menusuk dari ruang tamu. Beberapa orang terlihat sedang bercengkrama serius, pemandanganku tak terlepas dari hampir separuh orang yang diselimuti mata bengkak akibat menangis. Aku dan kakak-kakakku pun begitu, Luna, kakak pertamaku tak berhenti histeris memandang bapak yang terbujur kaku. Ia tampak sangat gagah dan manis dengan balutan jas hitam. Aku menangis dalam pelukan ibu. Ibu terlihat tegar, kuat dan merelakan kepergian bapak, walau dalam hatinya kini aku tahu ibu sangat rapuh dan kesepian.

Kehilangan seseorang dari dunia, menenggelamkanku pada keadaan haru dan lega. Saat ini aku sah menjadi anak yatim. Orang-orang akan menunjukkan muka ibanya saat tahu bahwa aku sudah tidak mempunyai bapak dan dibesarkan oleh janda yang hanya mendapatkan gaji dari mengajar anak SD. Tak sedikit, teman-temanku berbisik dibelakang “itu bapanya sudah meninggal, kasihan ya”.

Aku benci dikasihani, aku benci saat aku sedang mengobrol dengan teman-teman, kemudian mereka membicarakan mengenai orang tuanya, lalu saat mereka tahu bapaku telah meninggal mereka meminta maaf dan merasa tidak enak. Aku benci. Aku tidak suka dikasihani, seseorang akan mati dan aku tidak perlu dikasihani.

Disisi lain aku lega bapak meninggal, aku tak perlu melihatnya sesak napas. Aku tak perlu mendengar ibu menangis diam-diam di kamar mandi. Aku tak perlu mendengar rintihan bapak yang menahan sakit. Aku yakin bapak telah disembuhkan dan bahagia dialam yang berbeda. Aku yakin ia sudah memandangiku dari atas langit. Kini semenjak kepergian bapak aku menyukai berdiam diri dibawah kolong langit. Menikmati bisikan bapak dari angin, merasakan kehangatan bapak dari sinar matahari, melihat senyum bapak dari bulan, dan merasakan omelan bapak dari hujan.

 

*******

 

Berbelas-belas tahun lamanya sepeninggal bapak, aku diberi kesempatan oleh bibiku untuk bersama-sama berkunjung ke Nias. Nias adalah tempat dimana bapaku berasal.

“Dinda siap-siap ya, nanti bibi bawa kamu ke Nias, belum pernah kesana kan?” ucap bibi Suri padaku dari sambungan telepon.

“iya bi, semua sudah siap” ujarku cepat.

Malam hari sebelum keberangkatan menuju Nias, ibu berpesan untuk jaga diri dan mengingatkanku bahwa Nias adalah rumah bapak. Aku akan bertemu keluarga bapak yang tidak pernah aku temui sebelumnya.

“Nanti di Nias, Dinda akan bertemu banyak saudara. Dinda yang sopan ya” sambil menyentuh pahaku didepan ruang TV.

“Dinda deg-degan bu” ujarku yang masih memandang layar TV tanpa mengerti isi acara TV tersebut.

“Kenapa Dinda deg-degan?” tanya ibu.

“Dinda mau pulang ke rumah yang padahal sama sekali belum pernah Dinda tinggalin. Tapi ini rasanya seperti kembali pulang bu”

Aku melihat mata ibu berkaca-kaca.

“Dinda seperti rindu sanak saudara di kampung halaman, tapi Dinda sama sekali belum pernah bertemu saudara Dinda di Nias, ini aneh ya bu” ujarku.

Tanpa membalas ucapanku, ibu hanya tersenyum kemudian berjalan menuju kamarnya.

 

****

 

Aku sampai di Nias, udara yang panas menyengat menusuk dalam kulitku saat keluar dari pesawat. Sebotol air minum utuh ku pegang, sebagai mainanku ditangan agar tak terlihat nervous. Bibi mengarahkan jalanku keluar dari bandara “ini kampung bibi, welcome!” ucapnya dengan senyum yang sangat lebar.

Perjalanan dari bandara ke rumah saudara-saudaraku sangat jauh. Jalanan berbatu dan tanah liat kami lewati dengan susah payah. Disatu desa, aku harus menggunakan motor karena mobil tidak dapat masuk jalan setapak yang kecil itu. Ku kira perjalananku sebentar lagi sampai, namun aku salah. Perjalanan itu sangat panjang. Tas ku sampai-sampai sering terjatuh, karena gesekan ban dan batu yang tidak bersahabat.

Sesampainya disana, semua orang menyambutku dengan pelukan. Pelukan yang sangat hangat, yang baru pertama kali aku rasakan,yaitu pelukan tulus. Mereka menangis, aku ikut tersenyum, tak kuat menahan air mata, akhirnya aku menangis juga. Mereka menciumku di pipi, kening, dan kepala. Mereka menyambutku, seperti anak hilang yang telah kembali.

“Dinda datang, ini dia si duplikat Orin” ujar seorang ibu dengan nada Nias sambil merangkulku kuat-kuat. Ia adalah adik bapakku yang keempat.

Orin adalah nama bapakku. Ia adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Mereka yang menyambutku adalah adik dan sepupu-sepupu bapakku. Semasa hidupnya, bapak terkenal sebagai pemuda yang aktif di kampung. Ia juga sangat ramah dan humoris. Mereka merindukan bapakku sesaat setelah bapakku izin mencari pekerjaan ke Pulau Jawa. Aku bangga pada bapak.

Sejauh mata memandang, semua orang yang melihatku berjalan tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku terharu, akhirnya aku pulang dan semakin dekat dengan bapak. Rumah bapak masih sangat unik dengan kekhasan rumah Nias. Aku semakin merasakan bapak bersamaku sekarang, menikmati rumah lamanya, kampung halamannya.

Aku mengamati sorot mata bibiku tadi, ia melihatku dengan tajam dan meneteskan air mata. Aku menjadi bingung harus melakukan apa, yang aku lakukan saat itu hanyalah memandangi pemandangan yang sangat berbeda dari tempat tinggalku. Aku melihat ibu-ibu dan anak-anak berkumpul sambil mencari kutu, aku melihat anak-anak bermain batu, aku melihat pemuda-pemuda berlatih loncat batu, aku melihat bapak-bapak dengan kaus dalam kutung mengipas-kipaskan dirinya yang sedang kepanasan. Indahnya tempat ini.

Selama di Nias, bibi-bibiku banyak mengajakku ke tempat-tempat budaya yang bersejarah di Nias, juga masih ada puing-puing bangunan yang masih berserakan setelah beberapa tahun tsunami melahap sebagian Nias. Di minggu pagi, suster dan penggiat gereja berkeliling sambil memegang daun palma. Kemudian satu suster melirik ke arahku dan bertanya “siapa ini? Kamu baru pertama kali ke Nias nak?”

“iya suster, ini pengalaman pertamaku ke Nias”

“kamu seperti sudah lama berada di Nias, ini rumahmu juga nak” ujar suster berambut putih, berkacamata dan bersetelan suster dengan sepatu tali berwarna hitam.

Aku hanya mengangguk tersenyum.

Sebagian saudaraku adalah pelaut, aku diajak pergi ke pantai dan menikmati pemandangan pantai yang sepi dan kadang-kadang dihiasi turis mancanegara yang sedang menikmati guyuran sinar matahari. Saat itu aku memutuskan untuk duduk bersama sudaraku yang masih berumur 15 tahun, Clara namanya. Ia menceritakan kehidupannya di sini, dan bercita-cita pergi ke luar negeri untuk mengajar kembali di Nias. Aku tersentak dan kagum,

“kakak Dinda kalau sudah besar mau jadi apa?” tanyanya.

“belum tahu, tapi kakak mau ke Jerman”

“untuk apa?”

“belum tahu, yang pasti kakak mau ke Jerman” ujarku sambil menikmati deburan ombak.

Sore itu kami habisi dengan berkhayal masa depan. Kami memiliki tujuan yang sama, yaitu pergi jauh dari Indonesia, kemudian mencari saat dimana rindu akan kampung halaman dan kembali pulang. Namun Clara memiliki tujuan yang lebih jelas, yaitu mengajar. Sedangkan aku, aku yang adalah mahasiswa Bahasa Jerman di Universitas Negeri di Bandung hanya ingin pergi ke Jerman, hanya itu. Belum tau mau ngapain dan menjadi apa, terkadang aku berpikir bahwa aku sangat konyol.

Nias mengajarkanku banyak hal. Aku seperti kembali bersama kesederhanaan bapak, juga kesederhanaan sanak saudara disini. Aku juga diajarkan untuk dengan tulus menerima seseorang, bibiku yang hanyalah rakyat menengah sedang dengan mudahnya memberikanku bekal uang untuk kembali pulang, walaupun sejujurnya aku tidak membutuhkan itu dan ingin menolaknya, namun aku ingat pesan ibu, jangan menolak apapun yang akan diberi sanak saudara di Nias. Kata ibu mereka memberikannya dengan tulus dan penuh penghargaan kepada tamunya. Uang saku dari bibiku itu memang tidak seberapa, namun ketulusannya itu dibayar dengan harga mahal. Aku mencintai Nias, aku suka disini, seperti hidup bersama bapak.

[BERSAMBUNG]

Related posts

*

*

Top