Arsitektur Hijau Susun Peta dari Ribuan Tutup Botol

STOPPRESSOrganisasi mahasiswa bernama Arsitektur Hijau (ARJAU), yang bernaung dibawah Himpunan Mahasiswa Jurusan Arsitektur Unpar, mengadakan acara pameran dan diskusi dengan tema “Warna – Warni Indonesiaku” di Gedung Serbaguna Unpar.

Acara yang diadakan dalam rangka memperingati ultah ke 25 ARJAU ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 25 – 27 November 2010. Diisi dengan berbagai kegiatan menarik yang melibatkan banyak komunitas di Kota Bandung, seperti pameran, peluncuran buku, dan diskusi arsitektur.
Panitia Bagian Humas Warna-Warni Indonesiaku, Odilia Devinna Evanny (2008) menjelaskan, acara Warna-Warni Indonesiaku ini diadakan untuk memperingati 25 tahun perjalanan ARJAU serta untuk memperkenalkan aristektur kepada seluruh masyarakat Indonesia, “Khususnya tentang Arsitektur Vernakular yang ada di Indonesia (Arsitektur Tradisional Asli Daerah),” ujar Odilia.

Arsitektur Hijau berhasil membuat peta Nusantara dari Sabang sampai Merauke seluas 2,5 x 6 meter menggunakan tutup botol air mineral yang berjumlah sekitar 3.600 buah. Dikerjakan dua hari dua malam tanpa henti. Ide awal membuat peta untuk memanfaatkan tutup botol bekas air mineral yang tak terpakai lagi, dan memberi tanda pulau- pulau di Indonesia yang pernah mereka singgahi selama beberapa tahun terakhir. Peta Nusantara itu dipamerkan hingga hari Sabtu (27/11) kemarin.

ARJAU juga melibatkan belasan komunitas di Bandung, seperti Wanadri, Peta Hijau Bandung, Geotis Studio, dan Ars86care. Wanadri memajang belasan foto hasil ekspedisi gugusan pulau terluar nusantara. Foto tersebut diambil selama kurun waktu tiga tahun yang dibagi pada ekspedisi Indonesia bagian Barat, Timur, dan Tengah. Ars86care memajang foto berisi aktivitas mereka yang melibatkan anak-anak Indonesia terkait pengetahuan tentang arsitektur. Peta Hijau Bandung memajang sebuah peta geografis yang dilengkapi ikon bermakna khas di bidang lingkungan. Komunitas ini bergerak menangani solusi masalah sampah. Peta Hijau juga memberikan informasi seluas-luasnya terkait ilmu dan teknologi memisahkan dan mengelola sampah di kalangan masyarakat. Tujuannya mendukung program 3R Pemkot Bandung. Selain itu ada pula Geotis Studio, Studio Seni Rupa Ternama yang membuat icon DAGO di persimpangan Dago. Geotis Studio memajang beberapa karya seni rupa mereka seperti bentuk karya seni rupa yang membentuk sebuah hati namun tidak mulus, menggambarkan hati seorang manusia yang tidak selalu sama.

“Kami dari Arsitektur Hijau, mempersembahkan foto-foto perjalanan kami yang mengambil bangunan-bangunan arsitek vernakuler di sejumlah daerah di Indonesia. Seperti Jawa, Kalimantan, Sumatera dan daerah-daerah lain yang kami singgahi selama 25 tahun perjalanan kami di daerah-daerah wilayah Indonesia,” kata Odilia. (RE)

Related posts

*

*

Top