Anhar Gonggong: “Kebangsaan anda beda dengan saya, tetapi kemanusiaan saya sama dengan anda”

STOPPRESS MP, UNPAR –  Pada 12 Juni 2012, Pusat Kajian Humaniora (PKH) Unpar bekerjasama dengan Bale Pustaka Dewan Karya Pastoral Keuskupan Bandung mengadakan diskusi film “Soegija” dengan tajuk “Soegija Dan Kebangsaan”. Diskusi tersebut dihadiri oleh pembicara antara lain sejarahwan Anhar Gonggong dan penulis buku “Soegija – 100% Indonesia”, Ayu Utami. Pada akhir acara,Media Parahyangan berkesempatan mewawancarai salah satu narasumber, yakni Anhar Gonggong.

MP (Media Parahyangan): Di zaman sekarang apa yang disebut semangat kemanusiaan sudah sangat berkurang karena gaya hidup yang juga berpengaruh. Lalu bagaimana perbandingan sejarahnya dengan Indonesia masa lalu serta refleksi pemikiran Uskup Soegijapranata, walaupun kita tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah tersebut?

A (Anhar Gonggong): Dalam pandangan Uskup Soegija di film itu menunjukkan dalam situasi kritis, orang tetap harus bersikap, dan beliau telah menunjukkannya. Di konteks zaman sekarang, ada satu saat-saat khusus dimana orang muda juga bisa mengambil sikap. Sebagai contohnya adalah bagaimana pimikiran-pemikiran anak muda dalam menyikapi dan mengkritisi pemerintahan agar, misalkan, korupsi dapat dikurangi. Sikap-sikap yang lain seperti mahasiswa pada umumnya bisa bertindak untuk tidak memilih anggota-anggota DPR yang ketahuan korup dalam Pemilu nanti. Itu kan satu sikap walaupun kecil. Paling tidak bisa dilihat bahwa negara kita dalam posisi kritis disebabkan karena kita tidak punya korupsi. Di film itulah dapat diperlihatkan contoh sahih tersebut.

MP: Berarti sosok Uskup Soegija ini bisa menjadi salah satu figur untuk mahasiswa agar dapat bersikap?

A: Benar. Dan contoh yang lain yang bisa diambil yakni beliau bisa menentukan sikap ditengah pendapat dan sikap orang lain yang menentangnya, seperti waktu beliau memutuskan menjadi Pastur dan orang tuanya melarang. Di zaman sekarang anak-anak muda masih susah untuk mengambil sikap seperti itu.

MP: Banyak anggapan dari anak muda jaman sekarang bahwa ucapan “kemanusiaan itu satu” tidak lebih dari pikiran utopis. Bagaimana menurut anda?

A: Hal itu bisa ditampikkan jika membaca buku-buku tentang beliau dan melihat bahwa ditengah krisis pun ia masih mengatakan “saya mengambil sikap ini bukan oleh karena saya tidak manusiawi, namun justru karena saya ingin menegakkan nilai kemanusiaan yang satu”. Dia mau katakan kepada orang-orang Belanda “jangan bunuh kami, karena kami dan kamu adalah sama, tapi kami harus bersikap karena bangsa kami diperlakukan secara tidak wajar padahal kemanusiaan itu adalah satu. Anda adalah satu dengan saya. Kebangsaan anda beda dengan saya, tetapi kemanusiaan saya sama dengan anda.” itu yang jelas ingin ditunjukkan oleh beliau.

MP: Jadi bisa dibilang saat ini promordialisme dan segala macam bentuk anarki semakin marak?

A: Ya, segala macam. Misalnya orang tiap bulan puasa harus digebuki hanya karena dia membuka warung. Itu kan menyangkal hakekat kemanusiaan bahkan dalam hal agama Islam, kalau kita berani untuk menyatakannya. Namun butuh proses dan waktu yang panjang.

MP: Apa sebenarnya apa yang terjadi pada masa ini merupakan satu proses dari masyarakat indonesia untuk terpecah-pecah kembali dengan menjunjung tinggi komunitasnya?

A: Nah disitu letak kesalahannya. Seharusnya dalam konteks sekarang, dalam situasi kritis sekarang ini, justru yang harus ditampilkan masyarakat adalah sisi kemanusiaan itu, bukan justru identitas komunitas masing-masing. Perjuangan reformasi ini bukan dari satu orang tapi semua orang juga ikut berjuang demi menegakkan suatu kehidupan bersama. Bukan komunitas saya yang ingin ditegakkan, namun komunitas Indonesia lah yang harus ditegakkan.

MP: Dulu waktu kita diajarkan sejak SD kita sering diberitahu bahwa perjuangan kita bersifat kedaerahan dan kedaerahan. lalu kita diberitahu lagi bahwa di era sekarang perjuangan kita terpecah pada primordialisme lagi?

A: Nah kesalahannya disitu. Ketika era pergerakan nasional, yang bergerak itu pemuda yang sebelumnya terbagi ke berbagai komunitas daerah dan membangun organisasi lokal. Namun hebatnya adalah pendirian organisasi lokal tersebut bukan untuk mempertahankan identitasnya, tapi justru untuk mendirikan rasa keindonesiaan, melampaui jiwa primordialismenya. Orang-orang lokal inilah yang membentuk Indonesia, tapi mereka justru tidak memperjuangkan kelokalannya. Mereka pun membentuk suatu hal yang baru, yakni Nasionalisme Indonesia ini. Kesalahannya pada sekarang adalah menafsirkan lagi kelokalan tersebut secara keliru.

MP: Apakah ada hubungannya kesalahan penafsiran tersebut dengan era kegelapan Orde Baru?

A: Di diskusi tadi saya sempat katakan itu. Salah satu faktor mengapa kita tidak dapat lagi menginterpretasikan kebebasan itu karena kita terlalu lama berada dalam kungkungan Orde Baru. dari 1960 hingga 1998, 38 tahun kita menderita dalam kegelapan itu.

MP: Apakah bisa dikatakan hal tersebut menyebabkan bangsa kita menjadi traumatis dengan rasa kesatuan dan nasionalisme itu?

A: Jelas ada. Itulah yang menyebabkan kita menginterpretasikan kebebasan dengan ‘menjadi ingin tampil dengan gaya yang berbeda’.

MP: Lalu bagaimana solusinya agar rasa persatuan dan kesatuan kita tumbuh kembali?

A: Solusinya adalah dengan berdiskusi seperti ini, bahwa ada orang yang bisa menyampaikan pendapat secara bijak sehingga bisa melatih sisi intelektualitas kita. Anda harus ingat, Indonesia ini didirikan karena adanya intelectual exercise justru dari kelompok-kelompok kecil itu. Misalkan waktu Soekarno membentuk kelompok diskusi di ITB dulu, itu awalnya berdiri justru secara lokal, baru pemahamannya berkembang menjadi nasionalisme yang menjadikan Indonesia

(Bajik Assora)

*

*

Top