André Gide: OEDIPUS

Poster Oedipus-2NewWEB

SIARAN PERS

Tentang OEDIPUS André Gide
Oleh: Fathul A. Husein
Memperbincangkan lakon Oedipus (1931) buah pikiran André Gide (1869-1951), sastrawan-pemikir Prancis peraih Nobel Sastra 1947, jelas merupakan invitasi serius untuk berefleksi kritis tentang tafsir modern Gide atas mitologi Yunani Klasik seperti lazimnya dituturkan melalui lakon tragedi klasik karya Sophokles. Oedipus Gide bukan melulu hadir sebagai semacam tafsiran mistik atas hal-hal rasional, laiknya sebuah tafsir mitos, melainkan bongkahan itikad yang dengan amat cerdas, filosofis, dan berbobot sastra amat tinggi, menuturkan heroisme tragis tokoh Oedipus yang, meminjam frase Goenawan Mohamad, berdosa namun sesungguhnya tidak bersalah karena ia hanya terkalahkan oleh predestinasi dike atau rancangan takdir ilahi yang justru hendak dihindarinya. Kontras dengan Nietzsche, Oedipus justru tampil sebagai manusia agung yang tidak pernah berbuat dosa; sekalipun semua hukum, seluruh tatanan alam, bahkan seluruh aturan etika binasa karena tindakannya, sebab tindakan-tindakan itu malah menghasilkan konsekuensi yang jauh lebih tinggi yang mampu menciptakan dunia baru di atas reruntuhan dunia lama. Totalitas reformasi kosmik (keteraturan) di atas serpihan-serpihan khaos (kekacauan), melalui penghukuman diri atas dosa tak terperi yang, entah, mesti disebut dengan nama apa (dalam ketidaktahuan Oedipus membunuh ayahnya dan menikahi ibunya).

Dengan amat menakjubkan lakon ini juga menyiratkan afirmasi yang aneh dan amat menyerempet bahaya menyangkut hakikat eksistensial kebebasan manusia. Sebuah kritisisme atas gurat nasib atau suratan takdir yang jauh lebih kurang-ajar ketimbang model pengungkapan Yunani Klasik yang sudah amat lumrah. Di dalamnya beragam parodi saling menerobos dan tumpang-tindih, bukan hanya menggelitik namun lebih menggerus pikiran dan perasaan. Adegan Oedipus menentang dan memberontak Dewa (melalui sosok buta Tiresias sang alatNya), adalah puncak dramatik yang brilian dan amat bernas dengan daya pikat yang jauh melampaui sekadar konsepsi ketundukan atau penyerahan diri terhadap kuasa takdir. Sungguh, tantangan tersendiri untuk dunia keaktoran dan pemanggungan teater.

Fokus lakon ini terbentang di antara haru-biru konflik kegelisahan atau kecemasan religius yang menolak mentah-mentah anggapan bahwa hidup ini menggenggam makna yang memadai, hingga uji banding yang amat akut terhadap supremasi ranah supernatural yang bertabrakan dengan jagat humanistik yang telah menanggalkan aspirasi ilahi; sebuah hakikat keberadaan yang murni eksistensial, kondisi manusia yang sendirian di alam semesta. Manusia dan kemanusiaan, dalam lakon ini, adalah jawaban untuk segala persoalan di alam semesta. Tak ada jawaban apa pun di luar diri manusia. Itulah, betapa hebatnya manusia dan kemanusiaan. “Hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan yang begitu berbeda-beda, dan jawaban tunggal itu adalah: ‘Manusia’. Dan manusia tunggal itu adalah: Dirimu sendiri!”, cetus Oedipus.

Dalam konteks kekinian, lakon sublim yang memendam implosivitas tinggi ini juga bisa dicermati sebagai instrumen reflektif untuk merenungi nilai-nilai kemanusiaan sejagat dan kesederajatan/persaudaraan yang jernih dan tak terkerangkeng oleh batas-batas yang sempit, picik, dan egosentris. Tema-tema krusial semacam tabu incest (hubungan sedarah), semangat anti-gender, spritualitas mata batin (kebutaan fisik) yang kejernihannya jauh melampaui mata lahir, dan pernik-pernik humanisme universal yang lain, nampak mendapat dukungan arif dan proporsional dalam lakon yang amat moralis ini.

Perkara aktual dan fundamental yang ingin ditafsir melalui performance text pementasan ini, dan menjadi pesan mendasar, terutama menyangkut tema entropik terkait hakikat kekuasaan; bahwa semua sistem (kekuasaan) yang dibuat tertutup dan membungkam atau menyembunyikan kebenaran, pada saatnya akan menggulirkan khaos dan malapetaka yang menghancurkan. Sebaliknya, Gide mengedepankan entropi moral untuk memberangus superego kekuasaan yang watak aslinya cenderung melarang dan mengkerangkeng perilaku yang hendak membongkar akar kekacauan. Dunia kemanusiaan senantiasa merindukan sebuah sistem kekuasaan, atau kepemimpinan, yang jujur dan terbuka dalam itikad untuk membongkar kejahatan atau dosa, bahkan ketika penjahat atau pendosa itu adalah dirinya sendiri. Sebab, hanya tatkala kejahatan atau dosa dihukum setimpal, kekacauan mereda dan malapetaka fatal terhindarkan. Hanya tatkala kebenaran dibiarkan tampil polos dan jernih, langit akan menyurutkan bencana dan kehancuran.

Inilah pelajaran amat berharga yang bisa digamit dari heroisme tragis Oedipus. Sosok supra-manusia yang amat dirindukan. Pemimpin ideal lantaran sanggup menjebloskan dirinya ke dasar jurang kebenaran amat pahit, asing, dan menelan dirinya. Tak lain, karena ia berhasrat besar dalam meruntuhkan kelaziman palsu dan konformis dari jargon busuk bahasa kekuasaan, seperti pernah disindir oleh Wittgenstein: ”Terhadap apa yang tak layak diungkapkan, orang mesti mengatasinya dengan diam”.

Kita hanya dapat bermimpi, merindukan pemimpin yang sanggup membongkar, bahkan mengorbankan diri, demi sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.

Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), dengan dukungan khusus NEO Theatre, Actors Unlimited, dan Jurusan Teater STSI Bandung, mempersembahkan:

ANDRÉ GIDE
OEDIPUS

13 & 14 November 2014
Pkl. 19.30 WIB
Di Aula Pascasarjana UNPAR
Jl. Merdeka 30 Bandung

Related posts

*

*

Top