Ancaman Kerusakan Moral Bangsa dan Almamater

Oleh: Noorhan Firdaus Pambudi (Teknik Industri 2009)

Alasan saya untuk menulis keluh kesah ini karena saya tergugah dari kata-kata dalam buku IQ84 karya Haruki Murakami. Isinya seperti berikut ini :

“Segala sesuatu berbeda dari penampilannya. Jangan sampai tertipu penampilan. Kenyataan selalu hanya ada satu.” 

Belakangan saya terusik dengan berita-berita yang merusak moral dalam pelaksanaan pemilu di Unpar. Mulai dari kasus tindakan mencontek yang dilakukan oleh calon presiden mahasiswa yang akhirnya terpilih, hingga yang terbaru yang saya dengar ialah lolosnya mahasiswa sebagai perwakilan yang melakukan tindakan pencoretan spanduk kandidat dalam pemilu umum persatuan mahasiswa (PUPM) Unpar. Sepertinya bukan hanya negara yang kehilangan moral dari para pemimpinnya, namun tampaknya almamater tempat saya menuntut ilmu pun tinggal menunggu waktu menghasilkan generasi yang sama terpuruk moralnya. Meski demikian, saya tetap optimis bila perubahan itu tetap bisa terjadi, jika Tuhan saja mau menerima tobat setiap umat-Nya kapanpun dan dimanapun maka saya yakin perubahan itu bisa terjadi.

Seperti ibarat bertobat, untuk menjadi lebih baik dari melakukan dosa demi dosa, perubahan pun membutuhkan hal yang sama. Pengorbanan. Hal ini hanyalah masalah mental kita apakah mampu melakukan itu atau tidak. Mampukah untuk berkorban untuk meninggalkan sesuatu yang menyenangkan namun pada kenyataannya buruk untuk menuju suatu tahapan yang memalukan, hina, bahkan sama sekali tidak menyenangkan tetapi pada kenyataannya merupakan keputusan yang sangat bijak dan baik. Tetapi apa yang sebenarnya membuat pengorbanan sulit dilakukan?

Kejadian-kejadian belakangan ini di kampus tidak jauh berbeda dengan kejadian di ranah berita nasional terutama mengenai pemilihan presiden. Maka dari itu saya sangat tergugah dengan tulisan dari Haruki Murakami tersebut. Terkadang kita memang selalu tersilaukan dalam satu aspek tertentu yakni penampilan, namun selalu pura-pura lupa, tidak tahu, atau bahkan cenderung tidak acuh pada sebuah kebenaran, kenyataan, fakta, dan data. Hal ini mungkin yang membuat kita terkadang melupakan tindakan pengorbanan itu dan cenderung bertahan pada posisi yang sudah nyaman meskipun sebenarnya tekanan untuk berubah datang dari berbagai belahan dunia.

Kita mengingat salah satu kandidat presiden kita tegas, kuat, dan tangguh tapi kita lupa bahwa ada fakta bahwa ia adalah perwira yang dipecat. Kita mengingat bahwa presiden mahasiswa kita calon tunggal dan kekosongan bisa terjadi bila tak terpilih namun kita lupa bahwa faktanya pemimpin kita adalah tidak jujur dalam ujian. Kita mengingat bahwa tindakan pencoretan terhadap seseorang yang dianggap hina adalah wajar tapi kita lupa bahwa tindakan itu bisa menjadikan demokrasi yang kita impikan hanya menjadi sekedar demokrasi jalanan mengutamakan emosi tanpa mengedepankan akal sehat.

Kemalasan untuk mencari, menerima, dan menjalankan fakta merupakan permasalahan yang menimbulkan tindakan melupakan ini. Ketakjuban akan keindahan kondisi yang sekarang, membuat kita malas mencari fakta di masa lalu untuk mengungkap fakta di masa yang akan datang. Untuk terus menghadirkan kebenaran selama kehidupan berjalan.

Bahkan terkadang, kondisi yang nyaman tersebut dianggap sebuah kebenaran. Perlu diingat bahwa menganggap kondisi yang ada sebagai sebuah kebenaran adalah awal mula hilangnya kebenaran. Kita sebenarnya takkan pernah mendapatkan kebenaran yang absolut karena sesungguhnya kebenaran hanya milik Tuhan. Namun kebenaran akan menjadi lebih dekat apabila kita berlaku dan bertindak benar dalam segala norma dan aspek kehidupan.

Opini dari Lalola Easter Kaban pada 29 Mei 2014 berjudul “Untuk Mahasiswa yang Amnesia” juga seharusnya bisa dijadikan formula pengingat yang baik bagi kita semua. Dan sekedar pengingat bahwa sebenarnya otak kita tidak diciptakan untuk melupakan namun untuk belajar dari pengalaman dengan mengingat tiap kejadian yang telah kita alami selama hidup. Bahkan sebenarnya yang menjadi kelebihan otak kita dibandingkan otak komputer ialah bahwa kita tidak mempunyai fungsi “delete”. Dalam psikologi sendiri bahkan kejadian deja vu (bermimpi sesuatu yang menjadi kenyataan) didasarkan pada kekuatan memori otak kita akan kejadian masa lampau. Jadi bila kita mengaku lupa maka sebenarnya kita hanyalah pura-pura lupa dan menolak untuk mengingat kembali.

Jadi apakah kita mau untuk berkorban dengan mengingat kejadian mana yang dapat diterima oleh akal sehat untuk terhindar dari kegilaan yang tidak kita sadari selama ini?

 

Related posts

*

*

Top