Alasan-alasan di Balik Kemenangan Trump

Pidato Malam Pemilihan Umum Trump. Dok/ Los Angeles Times. Pidato Malam Pemilihan Umum Trump. Dok/ Los Angeles Times.

INTERNATIONAL,MP – Donald Trump telah ditetapkan sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat setelah beliau memenangkan pemilu dengan suara 276 sementara lawannya, Hillary Clinton, yang pada akhirnya menyerah, hanya mampu mendapatkan 218 dari 270 suara yang dibutuhkan untuk menang.

Peristiwa ini telah membagi masyarakat Amerika Serikat kepada dua kelompok besar, kelompok yang berbahagia atas kemenangannya dan kelompok yang masih tidak percaya dan tercengang mengapa Trump bisa menang. Kemenangan ini tentunya mempunyai beberapa alasan, apalagi melihat sudah banyak sekali komentar-komentar negatif yang dilontarkan kepadanya:

Pertama, Hillary Clinton bukanlah lawan yang juga disukai oleh masyarakat Amerika Serikat. Clinton adalah sosok yang dianggap tidak dapat dipercaya dan tidak jujur oleh 70% pemilih. Terutama akibat tindakannya yang memakai e-mail pribadi dalam bertukar informasi rahasia. Clinton pun dikenal sebagai sosok yang tidak konsisten yang bisa merubah pikirannya kapan saja, misalnya saat dia mendukung pernikahan Trans-Pacific Partnership (TPP) dan saat ia kemudian menentangnya.

Kedua, tindakan Trump yang melawan partainya sendiri. Memang secara sekilas hal ini tampaknya buruk, akan tetapi masyarakat Amerika Serikat melihat hal ini dengan sudut pandang yang lain. Mereka merasa bahwa calon-calon dari partai Republikan yang mereka pilih hanya memberikan janji-janji kosong saja, menyebabkan penutupan berbagai fasilitas pemerintahan, dan menciptakan stagnansi negara. Sehingga ketika Trump melawan partainya sendiri, hal ini justru menguntungkannya.

Ketiga, adanya perasaan bahwa Amerika sekarang bukanlah Amerika Serikat yang hebat dulu. 56% orang putih Amerika percaya bahwa keadaan Amerika semakin memburuk semenjak tahun 1950an. Slogan Make America Great Again pun semakin membawa para kaum tua di Amerika Serikat mengingat kembali masa-masa kejayaan Amerika saat tahun 1950an dan 1980an. Kaum ini merasa bahwa Amerika telah dikecewakan oleh para politisi pada umumnya, terutama dalam isu imigrasi yang setiap tahunnya menyumbang banyak imigran ilegal setiap tahunnya.

Keempat, Trump menggunakan bahasa-bahasanya yang sifatnya langsung dan mudah dimengerti oleh masyarakat. Hal ini bisa diliat dari isu imigrasi; banyak imigran dari Meksiko – biasanya mereka memasuki Amerika secara illegal – deportasi saja atau bangun tembok untuk menghalangi mereka. Hal-hal seperti ini akan sangat mudah dimengerti dan diterima kaum-kaum konservatif yang berjumlah berpuluh-puluh juta di Amerika Serikat yang memang cenderung tidak menyukai para imigran.

Kelima, rasa superioritas masyarakat Amerika berkulit putih terhadap imigran, perempuan, pemeluk agama non-Kristiani, LGBT, dan lainnya. Masyarakat Amerika kulit putih ini sering kali merasa bahwa Amerika sekarang sudah menjadi terlalu tercampur-campur (tidak murni Amerika lagi). Trump menjanjikan berbagai hal yang akan mengembalikan kembali tempat superioritas masyarakat kulit putih di Amerika tersebut sehingga mereka merasa Trump menghargai mereka dengan kekuasaan dan otoritas.

 

Google US Election | The Guardian | Michael Moore | Evonomics | Tanya Lee Nathalia

Related posts

*

*

Top