Aksi Keprihatinan Mahasiswa Unpar, 5 Mei 1998 Diwarnai Luka Luka Ringan Dan Memar

Edisi 5 Mei 1998

Aksi keprihatinan mahasiswa Unpar yang sedianya berlangsung damai, akhirnya pupus ketika harus berhadapan dengan aparat keamanan pada hari Selasa siang

Dimulai pada jam 10:00, sekelompok mahasiswa Unpar yang mengatas namakan dirinya Kelompok Untuk Tanah Air-Unpar, menggelar aksi keprihatinan yang kedua kalinya bertempat di parkir depan gedung rektorat.Acara diawali dengan orasi yang dilakukan beberapa mahasiswa yang intinya menuntut reformasi total dan penurunan harga Sembako dan BBM. Lalu, acara dilanjutkan dengan orasi dari beberapa dosen dengan tema yang sama, termasuk Arief Sidharta, dosen senior dan “sesepuh” Unpar. Tanpa disadari, peserta aksi kian membludak dari belasan hingga puluhan orang yang terdiri dari para mahasiswa, karyawan dan dosen.

Satu jam kemudian massa peserta mulai bergerak menuju ke jalan, namun tertahan di gerbang oleh satu kompi polisi anti huru-hara, baik dari Polwiltabes Bandung dan Armed 04 Cimahi, yang sudah siap dengan helm, tameng, dan tongkat pemukulnya.

Akhirnya massa terkonsentrasi di gerbang sambil melanjutkan orasi dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sekitar pukul 11:30 WIB, aparat keamanan mendapat tambahan satu kompi lagi, hingga akhirnya membentuk lima lapis dan praktis menutupi 3/4 lebar jalan Ciumbuleuit. Makin banyak aparat keamanan, makin kesal pulalah massa peserta yang hanya dibatasi dengan balutan spanduk. Kemudian terdengar aba-aba agar massa maju beberapa langkah, hingga saling berhadapan beberapa centi meter antara tampang “nakal” mahasiswa dengan tampang bengis aparat keamanan.

Melihat gelagat yang mulai mengkhawatirkan itu, Pembantu Rektor III menganjurkan agar massa kembali melanjutkan demo di tempat semula. Namun ajakan itu tidak digubris oleh massa yang sudah kadung emosi dan dilanjutkan aba-aba maju selangkah oleh seorang mahasiswa yang akhirnya berisiko tinggi. Sudah maju selangkah, tiba-tiba terjadi dorong-dorongan dari belakang. Akibatnya beberapa peserta aksi yang paling depan harus “mencium” tameng aparat keamanan. Teriakan “Jangan dorong! Jangan dorong!” dari pemandu aksi jadi percuma, karena beberapa peserta paling depan sudah bentrok dengan aparat keamanan lapis pertama yang mulai menendang dan memukul mereka. Parahnya lagi, bentrokan tersebut diramaikan oleh lemparan batu dari dalam kampus terhadap aparat keamanan, sehingga timbul kepanikan dari para penonton di sebelah aparat. Menyadari bentrokan yang tidak seimbang tersebut, beberapa mahasiswa berusaha menarik teman-teman mereka ke dalam lokasi kampus dari hantaman sepatu dan tongkat aparat keamanan.

Drama lima menit yang mencekam itu akhirnya mengakibatkan setidaknya 5 mahasiswa menderita memar dan luka-luka ringan, ada yang di sekitar kaki atau wajahnya. Bentrokan berakhir ketika jarak massa peserta dengan aparat keamanan mulai berjauhan.

Sekitar jam 12:15 massa peserta mulai bergerak kembali ke lokasi parkir depan gedung rektorat dan melanjutkan lagi orasi dari beberapa mahasiswa dan dosen Unpar. Hadir pula utusan mahasiswa dari Unpad, STIEB, dll. Namun yang menarik ketika Rektor Unpar, AP Sugiarto,SH, mau tampil memberikan orasi hingga mendapat tepukan gemuruh dari massa aksi yang masih tetap antusias. Orasi yang berlangsung selama 10 menit itu diakhiri dengan ajakan rektor untuk bersama-sama menyanyikan “Hymne Unpar”. Setelah itu berakhir pulalah aksi keprihatinan Mahasiswa Unpar yang sudah menunjukkan jam 13:30 WIB. (Renee/rra)

Related posts

*

*

Top