Aksi Keluarga Besar Mahasiswa Unpar, 19 Mei 1998 Menghendaki Presiden Soeharto Meletakkan Jabatan

Edisi 20 Mei 1998

Sehari sebelum Hari Kebangkitan Nasional, Mahasiswa Unpar kembali mengadakan aksi di Kampus Merdeka dan Ciumbuleuit. Dalam aksi tersebut, tuntutan agar Presiden Soeharto meletakkan jabatan, serta permohonan agar waktu penyelenggaraan Ujian Akhir Semester Unpar diutarakan.

Kembali, aksi menuntut reformasi digelar di Kampus Merdeka pada pukul 10.00 WIB. Seperti aksi-aksi sebelumnya, para mahasiswa dan dosen memberikan orasinya. Namun, yang paling menarik perhatian, adalah ketika seorang penjaga kantin Unpar, Hardy (+/- 10 tahun),didaulat ke depan untuk memberikan orasi. Dengan kebingungan dan sedikit terbata-bata, Hardy mengeluhkan krisis ekonomi, dan kesenjangan yang ada saat ini, “Kenapa harga-harga naik? Kepada siapa saya harus bertanya? Terus, kenapa para mahasiswa punya handphone? Kenapa para bapak-bapak bisa punya mobil? Dari mana uangnya itu? Kalau saya mah mau beli baju saja susah”

Di tengah orasi yang menuntut reformasi, tersiar kabar, bahwa Presiden Soeharto telah berpidato di Istana Negara. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto menyatakan akan membentuk dan memimpin Komite Reformasi yang akan mendorong penyelenggaraan Pemilu secepatnya dan memastikan dirinya tidak bersedia untuk dicalonkan sebagai Presiden berdasarkan hasil Pemilu tersebut. Banyak mahasiswa dan dosen kecewa mendengar berita tersebut, mengetahui bahwa Soeharto belum mau meletakkan jabatannya secepat mungkin.

Setelah penampilan teater dari mahasiswa Fakultas Filsafat Unpar, aksi diberhentikan sejenak pada 12.30, untuk dilanjutkan di Kampus Ciumbuleuit pada pukul 13.30. Di Kampus Ciumbuleuit tersebutlah, Arief Sidharta selaku dosen senior membacakan pernyataan sikap dosen, karyawan, mahasiswa dan alumni Unpar, berisi tuntutan agar diselenggarakan Sidang Istimewa MPR, dengan agenda pemberhentian Presiden Soeharto dan Wakil Presiden B.J. Habibie, serta pemilihan dan pengangkatan Presiden RI yang baru untuk periode 1998-2003. Pernyataan tersebut disambut dengan meriah oleh semua yang hadir, dan didukung dengan penandatanganan pernyataan oleh sebagian besar yang hadir.

Selain itu, Henri Ismail selaku wakil dari mahasiswa, melihat kondisi Indonesia yang tengah tak menentu, meminta dengan sangat kepada pihak rektorat, agar waktu Ujian Akhir Semester di Unpar yang sedianya berlangsung mulai 25 Mei 1998 untuk diundur. “Kami menuntut agar Ujian Akhir Semester ditunda, agar gerakan mahasiswa tak menjadi lugu!”, disambut dengan sorakan serta tepuk tangan mahasiswa, yang mendukung pernyataan tersebut.

Sebagian besar mahasiswa dan dosen yang hadir, telah antipati dengan Presiden Soeharto. “Saya tidak percaya apabila yang membentuk komite reformasi adalah Soeharto sendiri!”, ujar Henry Ismail kepadaParaHyangan, seraya menuturkan bahwa seharusnya komite reformasi dibentuk oleh rakyat.

Sedangkan Deni Rismansah, alumnus Fakultas Hukum Unpar, ketika diwawancarai ParaHyangan berpendapat bahwa langkah yang diambil Presiden Soeharto hanyalah mengulur-ulur waktu. Deni Rismansah mengusulkan agar dibentuk pemerintahan kolektif (presidium) sementara ini. “Ini semua karena tak ada tokoh yang dapat diterima oleh semua pihak saat ini.”

Ketika ditanyai pendapat oleh ParaHyangan mengenai pernyataan Presiden Soeharto tentang komite reformasi, Arief Sidharta mengatakan bahwa perubahan yang diajukan oleh Presiden Soeharto sudah begitu terlambat. Ketika ditanya, apakah Arief Sidharta setuju dengan langkah-langkah yang hendak diambil, ia mengatakan “Itu semua tergantung dari reshuffle kabinet dan komite yang dibentuk.”

Sehubungan dengan ketidaksetujuan tersebut, maka Keluarga Besar Mahasiswa Unpar berencana untuk tetap melakukan aksi pada Hari Kebangkitan Nasional (20/5). Aksi tersebut akan digelar mulai pukul 10.00 WIB, dan seluruh mahasiswa Unpar diminta untuk hadir dan turut mensukseskan aksi. Namun, hingga berita ini ditulis, rencana tentang aksi-aksi apa saja yang akan dilakukan masih dalam perbincangan.

Aksi damai pada tanggal 20 Mei 1998, diramalkan akan diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa di seluruh perguruan tinggi beserta rakyat di Jakarta, Bandung dan seluruh Indonesia. Bahkan, pemantauan redaksi melalui e-mail yang diterima, menunjukkan bahwa aksi akan dilakukan oleh seluruh perkumpulan mahasiswa Indonesia di seluruh dunia. Walau dikatakan sebagai aksi damai, banyak juga dari masyarakat yang merasa cemas dan berharap agar tidak terjadi kejadian-kejadian yang tak diinginkan pada hari itu. (Samuel, Edu, Erwin/e)


PERNYATAAN SIKAP

 

Kami, dosen, karyawan, mahasiswa dan alumni Universitas Katolik Parahyangan – Bandung, sebagai bagian dari rakyat Republik Indonesia

MENYATAKAN:

MENDUKUNG SEPENUHNYA SIKAP, PENDAPAT, DAN TUNTUTAN RAKYAT DAN PIMPINAN DPR/MPR YANG MENGHENDAKI PRESIDEN SOEHARTO/MANDATARIS MPR UNTUK MELETAKKAN JABATAN SEBAGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPR

Sehubungan dengan itu, kami menuntut agar DPR meminta MPR sebagai perwujudan dari Kedaulatan Rakyat Republik Indonessia untuk dalam waktu sesingkat-singkatnya menyelenggarakan SIDANG ISTIMEWA MPR dengan AGENDA:

 

  1. 1.     Memberhentikan Presiden Soeharto dari jabatannya selaku Presiden Republik Indonesia/Mandataris MPR serta B.J. Habibie selaku Wakil Presiden Republik Indonesia;

 

  1. 2.     Mengadakan pemilihan dan pengangkatan Presiden Republik Indonesia/Mandataris MPR yang baru untuk Periode 1998 – 2003.

Dan Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung gerakan reformasi total secara damai.

 

Bandung, 18 Mei 1998,

Dosen, karyawan, mahasiswa dan alumni

Universitas Katolik Parahyangan

 

 

Related posts

*

*

Top