Aksi Bersama Untuk Perubahan, 7 Mei 1998: Ada Yang Menyesal Tidak Jadi Bentrok

kepung

Edisi 8 Mei 1998

Setelah “libur”satu hari, Mahasiswa Unpar kembali melakukan aksi di kampus Ciumbuleuit (7/5) lalu.

Aksi yang dimulai jam10.00 WIB diawali dengan penaikan bendera setengah tiang di depan gedung rektorat. Lalu,acara dilanjutkan dengan beberapa orasi dari mahasiswa dan dosen. Menariknya, semakin banyak mahasiswa dan dosen serta alumni yang turut sumbang suara tentang kenaikan harga Sembako dan BBM, bobroknya Rezim Orba dan tindak kekerasan aparat keamanan terhadap mahasiswa serta wartawan akhir-akhir ini. Hadir pula perwakilan mahasiswa dari kampus-kampus di Bandung seperti ITB, Unpad, IAIN Gunung Jati, Unla dan Unpas, serta perwakilan dari PMKRI dan ALDERA. Bahkan beberapa anak kecil sekitar Ciumbuleuit pun terlihat memegangi spanduk.

Tak ketinggalan, seorang penjual pisang keju di kawasan Ciumbuleuit pun ikut memberikan orasi. Sebagai salah seorang korban dari krisis yang berlangsung saat ini. Penjual pisang keju tersebut  terpaksa tidak bisa lagi menyekolahkan anaknya. “Saya takut anak saya menjadi ‘kambing dungu’ !”, ucapnya disambut dengan penuh simpati oleh massa yang berkumpul. Dengan sangat menggebu, penjual pecel lele tersebut menyalahkan Rezim Orde Baru karena dianggap telah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan rakyat. Akhirnya, penjual pisang keju ini berterima kasih kepada para mahasiswa yang telah mendukung untuk memperjuangkan rakyat kecil, disambut dengan gemuruh tepukan massa.

Yang menarik perhatian pula adalah Marsedes Marbun, dosen Fisip Unpar, yang memberikan orasi sambil dipayungi oleh salah seorang mahasiswa. Dengan komunikatif, dosen ini berkata,”Tadi malam saya menonton TV,berjudul ‘Ketika Cinta Harus Memilih'”,disambut aplaus serta gelak tawa pendengarnya. Dalam orasinya, Marcedes Marbun berkata,”Ketika saya harus memilih,maka saya memilih cinta negara dan bukan pada pengelolanya”.Ia pun turut mendukung tuntutan reformasi mahasiswa,”Karena reformasi adalah obat penyakit ‘Demam Berdarah’ yang melanda Indonesia saat ini”, disambut dengan meriah oleh massa.

Setelah sambutan dari beberapa mahasiswa dan dosen lainnya,serta persembahan lagu dari Dede Haris,akhirnya hasrat untuk turun ke jalan tak tertahankan. Pada jam 12.00 WIB, massa aksi yang jumlahnya ratusan mulai bergerak ke gerbang masuk kampus Unpar. Namun massa aksi harus “bersua kembali” dengan aparat keamanan yang terdiri dari 1 pleton Brimob dan 1 pleton Armed 04. Suasana sama dengan aksi sebelumnya (5/5/98), namun aksi kali ini melibatkan lebih banyak mahasiswa serta beberapa penduduk sekitar Unpar. Tak heran, aksi ini pun mengundang perhatian civitas akademika Unpar yang memenuhi hingga atap-atap gedung rektorat, dan penduduk sekitar Ciumbuleuit. Setiap gerbang kampus ditutup atau diblokir oleh panitia, untuk menghindari adanya penyusupan oknum-oknum pengganggu aksi.

Banyak dari Massa aksi yang menuntut agar mereka diijinkan bergabung ke kampus ITB, dan mengajak aparat untuk membuat sejarah agar berpihak kepada rakyat. Namun, tentu saja hal ini diharamkan oleh aparat keamanan yang tidak mau ambil resiko.

Suasana yang makin lama makin memanas, akhirnya memaksa F.X. Budiwidodo Pangarso selaku Pembantu Rektor III Unpar  berpidato dihadapan mahasiswa, mengimbau kepada seluruh mahasiswa untuk kembali ke halaman kampus.”Kalau Anda mahasiswa Unpar, tunjukkan bahwa anda tertib, dan tidak seperti kampus lain. Kalau Anda keluar kampus, pasti ketertiban diluar kampus akan terganggu. Itu rasional sekali.”ucap PR III, disambut dengan teriakan ketidaksetujuan, serta tidak digubris oleh para mahasiswa akhirnya.

Semakin lama, suasana semakin panas. Massa semakin mendekat dengan aparat, dan puncaknya terjadi pada jam 13.00 WIB,ketika terjadi saling dorong, tendang, dan pukul antara massa aksi di barisan depan dengan aparat keamanan. Bentrokan tersebut  nyaris memancing amarah sebagian peserta untuk kembali melempar batu, namun mampu dicegah oleh peserta aksi lainnya. Kendati korban tidak sebanyak aksi kemarin, namun seorang mahasiswa diberitakan mengalami memar di wajahnya. Tidak sampai lima menit, bentrokan akhirnya reda. Namun massa aksi tetap bertahan di gerbang masuk.

Ditengah tuntutan untuk diijinkan bergabung ke kampus ITB, pada jam 13.30 WIB massa aksi kembali mendapat “tamu masing-masing 1 pleton dari Brimob dan 5 menit kemudian dari Yonkav 4 yang siap siaga 50 meter dari gerbang masuk lengkap dengan senapan SS dan gas air mata. Hal ini tentu saja mendapat sambutan antipati massa aksi. Walau usaha-usaha telah  dilakukan untuk sedikit demi sedikit mundur, namun banyak dari mahasiswa yang tetap berkeras untuk tetap di tempatnya.

Di tengah situasi yang kembali memanas, Rektor Unpar, A.P. Sugiarto pun akhirnya hadir ditengah-tengah massa. Disambut meriah oleh massa, rektor mengatakan bahwa dirinya setuju dengan reformasi. Namun, rektor mengajak agar para mahasiswa mau membicarakan tuntutan tersebut kembali ke dalam kampus serta mencari strategi yang lebih baik, untuk mencegah kemungkinan adanya orang-orang yang merusak acara yang telah ada.

Setelah rektor berbicara, akhirnya  jam 14.05 WIB aparat keamanan mulai ditarik mundur seiring kembalinya massa aksi ke kampus. Setelah para mahasiswa berkumpul dan beristirahat sejenak di halaman, akhirnya acara dilanjutkan kembali dengan orasi oleh dosen, mahasiswa serta rektor.

Akhirnya, aksi keprihatinan mahasiswa Unpar usai jam 15.00 WIB, ditandai dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan pembacaan Sumpah Mahasiswa Indonesia.

Satu hal yang menarik ditemui  salah seorang reporter ParaHyangan ketika berada dikerumunan pasukan Yonkav 4 yang rata-rata matanya kemerah-merahan. Seorang tentara bergumam menyesal karena mahasiswa Unpar tidak jadi bentrok. Padahal, ia dan teman-temannya sudah siap menyabut.(Shita,Erwin,Renee/rra,e)


Rektor Unpar, A.P. Sugiarto,SH

“Semua Ini Kan Gerakan Nurani.”

Dalam pidatonya di pintu gerbang masuk Unpar, A.P. Sugiarto, SH menyatakan setuju dengan reformasi. ketika ditanya oleh ParaHyangan , mengenai apakah demonstrasi mahasiswa kali ini dapat dikategorikan sebagai politik praktis, Rektor menjawab,”Politik praktis itu kalau kita menggantungkan tujuan politik kita pada kekuatan politik tertentu. Semua inikan gerakan nurani. Soal kolusi, soal korupsi, itu bukan politik praktiskan. Itu norma-norma yang paling dasar yang siapapun pasti menyetujui.” Namun, rektor berpesan, agar jangan sampai demonstrasi mahasiswa ini membuat masyarakat menderita, dan menyiapkan strategi lebih lanjut agar pihak yang dituju dapat memahami tuntutan yang diajukan. “Perjuangan memang tidak bisa hanya dalam dua/tiga hari, namun memerlukan proses. Karenanya, saya harap agar mahasiswa tidak memusuhi satu persatu, namun merangkul satu persatu dan memberi pengertian kepada mereka tentang apa yang mahasiswa perjuangkan.”(Shita,Erwin/e)

Related posts

*

*

Top