#AintNoCinderella: Kampanye Media Sosial Menentang Diskriminasi Perempuan di India

Swafoto Jurnalis India, Palak Sharma, untuk Mengikuti Kampanye #AintNoCinderella. .    Swafoto Jurnalis India, Palak Sharma, untuk Mengikuti Kampanye #AintNoCinderella. .  

INTERNASIONAL, MP – Kampanye media sosial #AintNoCinderella atau Bukan Cinderella menentang diskriminasi masyarakat India akan perilaku perempuan. Stereotipe ini menganjurkan bahwa perempuan tidak diperbolehkan untuk berada di luar rumah sendirian pada jam malam. Tokoh-tokoh perempuan India, seperti Divvya Spandana (Politisi Partai Kongres Oposisi India) dan Palak Sharma (Jurnalis) pun mengikuti kampanye ini.

Kampanye #AintNoCinderella bermula dengan kasus di kejar dan dilecehkannya seorang DJ wanita bernama Varnika Kundu pada malam hari oleh beberapa pria. Mirisnya salah satu pria yang mengejarnya adalah seorang anak dari salah satu politisi yang berasal dari partai pemerintahan India, yaitu  Haryana Bharatiya Janata Party (BJP).

Masyarakat India dari berbagai kelas pun mendesak pemerintah untuk segera bertindak akan kasus ini. Akan tetapi, partai BJP melalui sang wakil presiden, Ramveer Bhatti, merespon dengan mempertanyakan mengapa Kundu berada di luar pada jam malam. Mereka berpendapat bahwa orang tua seharusnya memastikan anak perempuan mereka berada di dalam rumah pada jam malam. BJP bahkan berpendapat bahwa atmosfir pada malam hari sudahlah tidak baik untuk perempuan.

Kemudian Divvya Spandana atau yang kerap disapa dengan nama layarnya, Ramya memulai rantai kampanye sosial media ini. Ramya merasa ada sesuatu yang salah dengan pola pikir masyarakat terutama setelah mendengar pernyataan BJP akan insiden tersebut. Ia kemudian menyampaikan kekesalannya akan konstruksi sosial yang menekan kebebasan perempuan India pada obrolan pribadi dengan teman-teman perempuannya.

Berawal dari perbincangan kecil ini, Ramya akhirnya memutuskan untuk menuangkan protesnya dalam sebuah kampanye media sosial yang dimulai pada 08 Agustus 2017. Dengan mengunggah swafotonya menggunakan tagar AintNoCinderella, Ramya mengajak perempuan lain untuk melakukan hal yang sama. Kampanye #AintNoCinderella pun berhasil menarik banyak partisipan di berbagai sosial media, seperti Instagram, Twitter, dan Facebook.

Selain dukungan dan respon positif atas tagar AintNoCinderella, banyak juga respon negatif atas hal tersebut. Salah satu jurnalis, Palak Sharma mengaku pada BBC bahwa ia menerima banyak ancaman setelah mengunggah foto dirinya di akun twitter @palaksharmanews. Salah satu ancaman tersebut berasal dari @viren266 yang memberi komentar ‘wanita murahan’.

Kampanye #AintNoCinderella mempunyai pesan bahwa perempuan sudah seharusnya perempuan diberikan keamanan dimana dan kapan pun mereka berada. Perempuan tak harus pulang pada jam 12 malam seperti tokoh cerita dongeng, Cinderella. Mereka sudah seharusnya diberikan kebebasan dalam memilih gaya hidup mereka sehari-harinya tanpa dikecam maupun dilecehkan pria. Selain itu, kampanye ini juga menentang gaya kebijakan politisi dan  para pejabat di India yang sifatnya victim-blaming atau menyalahkan korban pada kasus-kasus yang menyangkut pelecehan perempuan, terutama pemerkosaan.

TANYA LEE NATHALIA | ERIANA MARTA ERIGE | RANESSA NAINGGOLAN

 

*

*

Top