Acara Voice From The East (VOTE) Diselenggarakan di Plasa Hukum Unpar

STOPPRESS MP, UNPAR – Acara talk show dan sosialisasi VOTE (Voice From The East) terselenggara di Plasa Hukum, Selasa (27/3). Acara yang diselenggarakan atas kerjasama antara gerakan kampanye sosial VOTE dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum(HMPSIH) mampu menyedot animo mahasiswa UNPAR.

Para pembicara pada talk show VOTE (Selasa 27/3) di Plasa Hukum Unpar

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Pelaksana acara Adrian, dan diteruskan oleh sambutan Sentosa Sembiring selaku Dekan FH.

Kemudian sambutan dilanjutkan dari perwakilan LSM FOKER, Sinal. “Dengan VOTE kita mengajak untuk tidak hanya bicara (tentang masalah di Indonesia Timur), tetapi mulai bertindak, apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia Timur,” ujar Sinal dalam sambutannya. “Ada 4 hal yang akan kita diskusikan dalam acara ini, masalah HAM, masalah lingkungan dan pertambangan, masalah sosial budaya dan terakhir masyarakat adat,” tambahnya.

Acara dilanjutkan dengan penampilan LISTRA yang membawakan tarian Salama dari  Toraja Indonesia timur. Kemudian acara dilanjukan dengan pemutaran video dari Kontras yang mengangkat tema sosial budaya masyarakat Papua yang juga video tersebut menjadi pengantar diskusi VOTE ini.

Pada acara inti yaitu talk show mengenai kampanye VOTE ini, dipandu oleh moderator Dr. Niken Savitri, S.H., MCL. Menghadirkan pembicara Dr. iur. Liona N. Supriatna, SH selaku dosen FH Unpar, Indria Ferinda selaku perwakilan dari Kontras, Minda Naomi perwakilan dari LSM Kiara dan Glenn Fredly sebagai musisi sekaligus penggagas VOTE.

Diskusi membahas masalah-masalah yang terjadi di Indonesia Timur yang sudah mengakar, baik dari sudut pandang hukum, politik, pandangan internasional sampai kepada sudut pandang sosial dan  budaya.

“Saya melihat pembunuhan identitas budaya pada masyarakat di Indonesia Timur. Dan cara represif yang dilakukan pemerintah pada saat itu menguatkan indikasi itu. Saya pikir ada masyarakat yang harus dipertahankan identitasnya,” ujar Glenn Fredly pada talk show tersebut. “Di era globalisasi ini yang terpenting adalah identitas,” tambahnya.

Pada sesi tanya jawab terlihat antusiasme mahasiswa menanggapi topik yang dibawakan. Terlihat dengan banyaknya pertanyaan dan kritik yang diajukan berhubungan dengan permasalahan di Indonesia Timur.

Plasa hukum semakin ramai ketika talk show ditutup dan Glenn Fredly naik ke atas panggung untuk membawakan beberapa lagu. Pada lagu terakhir, Glenn berkolaborasi dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNPAR membawakan lagu Indonesia pusaka. Acara pun ditutup  pada pukul 18.00.

“Sudah lama saya mengalami kerinduan pada kesadaran masyarakat kita di Indonesia bagian barat untuk dapat mengerti dan memahami kondisi mereka di timur. Dengan acara ini setidaknya saya dapat mengobati kerinduan itu dan menularkan mimpi saya akan daerah asal saya(Ambon-red) yang lebih baik lagi kepada kawan kawan mahasiswa UNPAR yang datang pada acara ini,” ujar Calvari ketua HMPSIH.

(Charlie Echon / Kania M)

Tags ,

Related posts

*

*

Top