Acara Talkshow pada Kampanye Cinta Kampus Kurang Mendapat Apresiasi dari Mahasiswa

STOPPRESS MP, UNPAR – Beberapa mahasiswa menilai Kampanye Cinta Kampus (KCK) kurang mendapat apresiasi dalam acara talkshow (1/5) di Plasa Gedung Serba Guna (GSG) Unpar, karena hingga pukul 16.00 WIB hanya terdapat sekitar 50 partisipan.

“Menurut saya yang tertarik dalam acara ini sedikit, padahal pembicaranya bagus, tapi sayang publikasinya kurang. Dan jumlah kuota kursi untuk talkshow juga sedikit,” jelas Erenz Kandou, Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2009.

Menurut Vania Valencia , selaku koordinator divisi acara, parameter kesuksesan Kampanye Cinta Kampus dinilai dari partisipasi mahasiswa dalam acara selama dua hari. Namun dalam penjelasannya ia menilai bahwa dalam acara parade KCK kemarin banyak mahasiswa yang ikut berpartisipasi. Berbeda dengan hari ini, partisipasi mahasiswa dalam acara talkshow lebih sedikit dibandingkan dengan parade kemarin.

KCK merupakan acara dari Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) yang bertujuan untuk memancing mahasiswa agar dapat mengenal lebih jauh Unpar. Dari tiga rangkaian tema acara, yaitu learn from the past, live for the present, struggle for the future, acara talkshow merupakan bagian dari tema struggle for the future. Pembicara dalam talkshow ini adalah Happy Bone Zulkarnain (ketua alumni fisip unpar, mantan anggota DPR RI 1999-2009), Herman Josis Mokalu (Yosi Project Pop),  Asep Iwan Irawan (Dosen fak.hukum Unpar) dan Jelly Nasser (Notaris).

(Harish Alfarizi / Banyubening)

6 Comments

  1. Dolok Yosuadi said:

    saya pikir peserta yang berkualitas lebih penting daripada

    peserta yang berkuantitas.

    • KM-UNPAR said:

      tapi bung Dolok, kalau tema atau judlnya dan niatnya itu kampanye dengan gaya talk show apalagi sasarannya adalah mahasiswa kampus kuantitas jadi penting. acara ini kan bukan acara diskusi studi grup atau FGD.
      jadi alasannya kurang berkualitas tuh bung, ditambah dengan miskinnya kata-kata (penjelasan).

      KM-Unpar

  2. Dolok Yosuadi said:

    saya senang sekali anda/teman-teman KM-UNPAR mau

    menanggapi dengan kritis jawaban yang saya tulis dengan
    spontan di atas.

    tanggapan saya:

    saya hanya mencoba berpikir dengan realistis saja, begini saudara, kita di sini mahasiswa, bukan anak sekolahan yang mesti disuap-suapi untuk aktif.

    sebagai mahasiswa unpar semestinya ketika ada pengumuman/promosi atau apa pun itu mengenai kampanye cinta kampus, harusnya mindset kita
    sebagai mahasiswa unpar, kita semua langsung bergerak dong berpartisipasi atau setidaknya paling
    hancur ada rasa penasaran di benak, nah ini yang
    ada malahkebanyakan mahasiswa malah acuh tak acuh
    ibarat di beri lahan bercocok tanam tapi malah dibiarkan menjadi semak belukar karena menganggap acara tidak penting.

    Kalau sudah seperti itu omong kosong lah kalau anda bilang menekankan kuantitas menjadi lebih penting, toh nanti perserta-peserta yang datang dengan terpaksa, ujung-ujungnya malah ngantuk-ngantuk atau keluar masuk tempat acara atau yang paling parah cuma mau mengincar konsumsi yang membuat suasana “akward” bagi peserta atau pembicara talkshow.

    Biarlah dari sini kita dapat menilai mana mahasiswa yang punya kesadaran rasa cinta terhadap kampusnya dan siap menyebarkan virus-virus cinta itu, jadi saya pikir kualitas menjadi lebih penting daripada kuantitas, sesederhana itu saja.

    oh ya, saya punya pertanyaan buat anda/teman-teman KM-UNPAR, kemarin datang ga KCK ?

  3. Pya said:

    Halo, ingin sekedar menanggapi berita serta komentar-komentar yang telah dipaparkan oleh teman-teman :) Menurut saya pribadi, acara yang telah digelar oleh teman-teman LKM tersebut mempunyai maksud yang baik, terutama dengan terobosannya menggelar forum aspirasi pada hari pertama KCK, yang diwakilkan oleh masing-masing program studi dan didengar langsung oleh pihak rektorat. Namun perlu sekiranya juga kita memberikan perhatian terhadap tujuan dari diadakannya acara ini.

    Sebagai seorang mahasiswa awam yang tidak terlibat langsung dalam pengusungan acara ini, persepsi saya adalah bahwa sebenarnya acara semacam ini bertujuan untuk menyalurkan rasa kepedulian kita terhadap kampus, sekaligus meningkatkan rasa kecintaan kita terhadap universitas. Berkaitan dengan tujuan terakhir yang saya paparkan, saya rasa segi kuantitas sangat perlu dipertimbangkan penuh oleh pihak panitia, mengingat tujuan ini tidak hanya tertuju untuk mereka-mereka yang memang sudah aktif dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi, yang lalu memang mungkin atas dasar ini hadir dalam acara talk show tersebut.

    Maka dari itu, sinkronisasi tujuan utama diadakannya acara dengan output yang ingin didapat di lapangan, serta realisasi acara yang diusung saya rasa harus dipertimbangkan dengan baik. Berkaitan dengan persoalan kuantitas tersebut, saya rasa perihal publikasi seharusnya bisa lebih dimaksimalkan sebelumnya. Karena jika saya boleh menilai, faktor publikasi menjelang diselenggarakannya acara ini terbilang kurang memadai, sehingga yang didapati pada saat acara talkshow berlangsung hanyalah sekitar 50 partisipan dari beribu-ribu mahasiswa yang terdapat di UNPAR.

    Sekali lagi, mungkin kita harus kembali merujuk pada tujuan awal diadakannya acara ini, apakah memang hanya ingin mengkampanyekan dan menumbuhkan rasa cinta pada universitas kepada mereka-mereka yang ‘berkualitas’ dan sudah mempunyai rasa peduli pada kampus atau pada mereka juga yang sebelumnya tidak sepeduli atau secinta itu pada kampusnya?

    Salam :)

  4. KM Unpar said:

    Bung Dolok, senang rasanya anda melanjutkan dialog ini.

    sayangnya penjelasan anda justru saling bertentangan satu sama lain. coba kita sama-sama koreksi.

    pertama, pada awal penjelasan anda katakan bahwa mahasiswa tidak perlu lagi disuapi untuk aktif. anda berasumsi bahwa mahasiswa sudah memiliki kesadaran diri (anda menyebutnya set mind). namun pada penjelasan berikutnya penjelasan anda justru mendudukan anda sebagai ‘penyuap’ kesadaran mahasiswa atau paling tidak merasa diri menjadi yang tersadarkan dari pada yang lain (the others) yang dianggap belum tersadarkan.

    jika anda beranggapan bahwa mahasiswa sepatutnya (anda menggunakan kata ‘seharusnya’) sadar, lalu untuk apalah kiranya kawan-kawan anda menyelenggarakan acara KCK dan turunannya. biarkan saja setiap mahasiswa, individu atau kelompok, formal atau non formal mengekspresikan rasa ‘cinta’ terhadap kampusnya. lembaga formal semacam MPM memiliki kewajiban untuk menjadi institusi yang mengangkatnya “pesan-pesan” tersebut secara lebih keras atau dalam teorinya, aggregation of public interest. bukan menyortirnya. jiwa kritis kita dapat pertarungan atas gagasan, semacam war of ideas. dan ini harus dihadirkan paling tidak dalam ruang-ruang kelas sebagai representasi labensrum (ruang hidup) gerak intelektual kita.

    kedua, bung dolok yang kami hormati. tidakkah anda melihat bahwa kawan-kawan anda justru telah menyuapi para mahasiswa (yang dianggap belum tersadarkan) dengan membuat wadah untuk menyampaikan kritik berlandaskan cinta pada kampus. lengkap dengan sambutan, kenangan dan sejarah para tokoh, jadwal acara dan ritualisme, panitia kegiatan, perlengkapan, biaya dan sebagainya. lalu apa ini bukan upaya menyuapi mahasiswa agar mau berbicara dalam kerangka cinta? cinta kawan-kawan anda benar-benar merepotkan. anda mengharapakn partisipasi dengan menghina mobilisasi namun anda hanya berkomunikasi dengan diri anda sendiri. bung dolok, kami khawatir cinta kawan-kawan anda adalah cinta yang narsis…

    ketiga, bung dolok yang kami cintai, perkenankan kami ceritakan tentang cinta yang kami pahami. cinta adalah suatu hubungan yang sulit untuk dibuktikan, namun getarannya tidak dapat kita nafikan (bahkan untuk getarnya yang terlembut). cinta melahirkan rasa rindu atau kangen. dan cinta yang kami pahami selalu merindukan kebenaran. namun seperti halnya rindu, adakah yang penah terpuaskan? begitulah kami dengan kebenaran, tak pernah terpuaskan. kami harus memaksa diri kami untuk selalu bergelora dalam upaya pencarian yang kadang terasa seperti tak berbatas. disinilah kami menemukan hal yang lain, yaitu kebebasan. tanpa ada kebebasan upaya pencarian kebenaran menjadi perjalanan yang membosankan, sepertihal perjalanan piknik tiap minggu yang selalu mengunjungi kebun binatang yang sama, sepertihalnya mengunjungi acara kawan-kawan bung dolok yang selalu sama tiap tahunnya.

    terakhir (yang bukan akhir dialog) bung dolok yang baik, bagi kami cinta harus membebaskan, tanpa itu cinta yang kawan-kawan bung tawarkan dapat kami pastikan cinta yang semu atau bahkan palsu…

    KM Unpar
    Salam Cinta

  5. Dolok Yosuadi said:

    Mau pendapat anda apa saja sih saya tidak masalah dan saya sangat menghargai itu, toh saya sudah menjelaskan alasan saya dan anda sudah menjelaskan alasan anda, saya punya pemikiran sendiri dan anda punya pemikiran sendiri. Saya sama sekali tidak tertarik untuk saling menjatuhkan di sini, ide anda menurut saya kreatif, dan saya pikir tidak ada salahnya anda langsung memberi masukan kepada LKM dan MPM perihal konsep acara KCK yang anda pikirkan tersebut, saya pikir nantinya akan menjadi satu hal yang menarik untuk kita semua, bukan begitu ?

*

*

Top